Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.
Bukan Salah Siapa-Siapa

Bukan Salah Siapa-Siapa

  • WpView
    LECTURAS 131
  • WpVote
    Votos 24
  • WpPart
    Partes 12
WpMetadataReadContenido adultoConcluida mié, mar 27, 2024
WpInfo
Ficción
Romance
Merindukan hujan ditepian sunyi, melanjutkan hidup dan berjalan sendiri tanpa siapapun. Ia mengira akan mampu, nyatanya ia lemah lalu menghentikan langkahnya karna tak tau harus berjalan ke kanan atau ke kiri. Dalam kebingungan seseorang datang menuntun dan menunjukkan jalan, Zieda diam tak berkutik sambil mengikuti langkah kaki laki-laki itu. . . . "Yah, memang salahku memilih jalan ini!" dengan air yang mengalir deras di pelupuk matanya. "Cukup! Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Saya ada disini, untukmu, bersamamu". jawabnya dengan dengan tegas lalu melembutkan suara paraunya sambil memeluk wanitanya itu.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • LANGIT TERBELAH CAHAYA PURNAMA
  • Mahligai Sunyi
  • BAM || Betapa Aku Mencintaimu (End)
  • Kathréftis {καθρέφτης}|| End✓
  • Surat Untuk Takdir [ ON GOING ]
  • Meneroka Jiwa
  • JALANKU

Hati yang Setia selalu merunduk-merendah mencari jalan-jalan terang dalam hidup, dan disaatnya LANGIT pasti akan menunjukan jalan Kesetiaannya. Cinta sejati tak akan lekang oleh waktu. Namun akan kembali dengan cara yang menakjubkan. Rakha dan Kinanti bagai layang-layang kembar. Terbang tinggi ke langit menembus awan tertinggi memohon diturunkan Cahaya untuk menerangi hati yang sepi pada Kerinduan yang tidak pernah bertepi. Diatas perahu di Selat Bali, Rakha hanya memandang gerak Langit, senyap dalam doa. Tiba-tiba tampak Langit Terbelah Cahaya Purnama. "Ooh Betapa Agungnya Engkau Maha Tercinta... " Kinanti berjalan menghitung langkah satu demi satu, menatap lembayung senja yang melintasi bebukitan hijau yang mulai menua. "Aishiteru Rakhaaa... Kamu dimana !!!" Langit pun terpaksa menangis... Bersama deru hujan yang datang kejar-mengejar dengan suara Angin yang berhembus kencang. "Kin ! .. KUA terdekat dimana? Bisa nggak kita daftar malam ini juga?" Rakha mulai serius menggoda pada pertemuannya yang baru berselang sekian menit. "Hayu, siapa takut?. Kita cari dulu muka yang tampangnya alim untuk jadi saksi nikah kita ya?"

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido