Indescribable Time

Indescribable Time

  • WpView
    Reads 55
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 11, 2023
Aku menjentikkan jemari. Sekejap, ramai riuh yang sebelumnya terdengar, lantas berubah menjadi senyap. Langkah buru-buru yang dilakukan setiap orang, berubah menjadi keterdiaman tanpa bisa bergerak. Kedua mata ini mengedarkan pandang pada tiap orang yang selayaknya hanya patung. Aku justru menyerngitkan dahi saat mendapati sebuah truk di seberang jalan terlihat oleng keluar jalur. Sepertinya, hiruk pikuk malam Minggu akan dibumbui sedikit tragedi. Tanpa peduli, aku kembali menjentikkan jari sehingga orang-orang kembali bisa kembali bergerak normal. Benar saja, langsung terdengar suara berdecit tanda badan kendaraan beradu diikuti teriakan kaget sekaligus panik dari orang-orang sebab menyadari ada kecelakaan di depan mata. Sejatinya, kejadian semacam ini bukanlah kali pertamaku. Kini, rasanya aku mulai terbiasa dengan itu. Setelah mengetahui kejadian barusan, biar aku tebak kalian akan menyebutku sebagai apa. Orang aneh? Orang istimewa? Atau mungkin Si Penghenti Waktu? Namun, apakah aku satu-satunya yang memiliki kemampuan seperti ini? Entahlah, mungkin sepanjang cerita ini kalian bisa menemukan Sang Pengendali Waktu lain yang sama-sama berkutat sembari berpikir apakah kemampuan ini merupakan suatu anugerah atau malapetaka.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dark Tales From Deep In The KEBUN DJENGKOL (TAMAT)
  • BALADA KEHIDUPAN
  • LAYERS || 48 [Completed]
  • Blue String - END (Terbit)
  • PEWARIS CINCIN KUTUKAN
  • ❲END❳ TRAPPED IN A HAREM NOVEL
  • OBOR PITU
  • Jejak Waktu yang Terlupa
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)

(BASED ON TRUE EVENT) **** Ini adalah kisahku saat mengikuti perkemahan PMR Regional provinsi. Dimana lokasi yang ditempati merupakan tempat pembantaian terbesar PKI dimasanya. Kisah kelam korban di masa lalu membentuk entitas kengerian ditempat itu. Sosok-sosok yang masih tak terima saat dibantai karena ketidakadilan memenuhi lokasi area bekas Belanda tersebut. Disini mereka menanti. "Kebun Djengkol". **** BRAKKK... Tiba-tiba pintu itu menutup dengan sendirinya. Spontan aku yang kaget langsung berlari menjauhi. Ketika melewati tembok jalan keluar bilik kamar mandi, aku tak sengaja menabrak seseorang. "Cuk!!!" Awalnya pemuda itu sempat marah, namun ekspresinya berubah saat melihat wajahku yang sudah pucat pasi. Aku pun bengong sepersekian detik. Bukan, bukan karena terpesona melihat wajah orang tampan layaknya adegan film-film romantis remaja. Namun aku berusaha menenangkan diri dari sisa ketakutan. Pemuda itu menatapku dengan ekspresi yang susah dimengerti. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya kemudian. "Nggak apa-apa. Maaf nggak sengaja nabrak". "Kenapa? Habis liat hantu ya?" "Ah ituu ..." "Kuntilanak ma setan bocahnya masih ngeliatin kamu tuh." Ucapnya santai. Dadaku kembali berdegup kencang sambil mengumpat lirih. Kini aku ganti memandangnya lekat. Dan pemuda itu membalas reaksiku dengan menyipitkan mata. "Apa?" Tanyanya kemudian. "Kamu bisa liat kan 'mereka' kan?" "Liat apa?" Aku sedikit melangkah mendekatkan diri sembari berbisik "Demit" Pemuda itu sempat terbahak. Lalu tiba-tiba menjulurkan sebelah tangannya. "Aku Aji." ****

More details
WpActionLinkContent Guidelines