So, Long London

So, Long London

  • WpView
    Reads 13,554
  • WpVote
    Votes 517
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 25, 2025
WpInfo
Fiction
Fantasy
Di dunia ini. Mengapa manusia harus merasakan rasa Cinta? kalau Manusia saja tak di perbolehkan untuk terlalu berharap pada rasa, dan kekecewaan terbesar adalah di saat cinta yang sedari dulu kita perjuangkan harus sirna karna takdir. Apapun tentang Cinta dan sejenisnya. Delina akan berkata jika. "Cinta itu mengerikan, Tak bisa di lihat namun terasa sangat menghantui jika tak di usahakan." Namun. Apakah benar manusia tak mengharapkan sebuah Cinta? Walaupun tak pasti jatuh kepada sang pemilik, Namun setiap manusia pasti ingin mendapatkan tempat untuk ia sekedar bersandar. ©®: caramelql
All Rights Reserved
#115
goyoonjung
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • untuk damai
  • ANTARA DOA DAN RASA
  • Perjalanan Cintaku...
  • 31 Months for You (Revisi)
  • BY MY SIDE
  • TIMELESS CRUSH (REVISI)
  • Behind the Silence
  • ZEVILYO EZYAN

Di antara lorong-lorong masa tua yang sunyi, di sebuah kamar bernomor tujuh di kota kecil Salatiga yang dingin dan penuh embun, dua lelaki tua duduk bersebelahan. Satu terbaring dengan mata nyaris kosong, satunya lagi menyisir rambut pasangannya dengan kelembutan yang nyaris menyakitkan. Suara dari walkman tua mengalun pelan-lagu lawas yang menyimpan lebih dari sekadar melodi: ia menyimpan hidup. Begitulah kisah ini dimulai. Dengan sebuah lagu. Dengan sepotong waktu yang tidak bisa diulang, tapi bisa diputar ulang. kembali ke tahun 2000, saat Damai, seorang remaja Jogja yang spontan dan hangat namun peka terhadap detail-detail kecil dunia, bertemu dengan Alam -anak Jakarta yang dikirim ibunya untuk 'beristirahat dari kebisingan'. Alam membawa kegelisahan seorang anak yang belajar menelan sunyi. Jogja menjadi panggung bagi pertemuan mereka, tapi bukan sekadar latar: kota ini adalah karakter ketiga dalam hubungan mereka. menjadi ruang di mana Alam dan Damai berjalan bersama. Membicarakan hal-hal kecil. Makan roti isi sambil duduk di stadion kosong. Mandi di Kali Winongo, ciprat-cipratan seperti bocah. Tidak ada yang berbeda . Yang ada hanya kehangatan yang tumbuh perlahan-dan itu cukup. Bahkan mungkin lebih dari cukup. Seiring tahun-tahun berlalu, mereka tumbuh. Dunia berubah. tubuh Alam mulai memudar. Tapi tidak kenangan mereka. Setiap sore, Damai memutar lagu dari kaset mereka yang lusuh dan di sinilah pembaca akan memahami: bahwa surga, seperti yang mereka bicarakan di usia lima belas di stadion tua, bukanlah tempat. Surga adalah momen. Adalah keberadaan yang lengkap, bukan sempurna. Adalah hari-hari ketika kamu merasa cukup, tanpa perlu memiliki segalanya. untuk damai adalah cerita tentang rumah yang bukan hanya tembok dan atap, tapi mata seseorang yang mengenal kita tanpa harus dijelaskan. kisah yang akan membuatmu berpikir, walau hanya sekali dalam hidupmu: kalau ini bukan surga, aku tidak tahu apa lagi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines