Sa dan Na

Sa dan Na

  • WpView
    LECTURES 18
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Chapitres 2
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication ven., févr. 4, 2022
Kelas baru sama dengan suasana baru, dan teman baru bukan? Namun, tidak bagi dua orang perempuan ini, yaitu Nata dan Sava. Mereka di pertemukan di dalam satu kelas yang sama lagi, setelah satu tahun yang lalu berada di kelas yang sama pula. Bosan? Oh tidak. Mereka malah bahagia. Iya, mereka sangat bahagia.. Hingga kebahagiaan itu lenyap, di saat yang tidak tepat. Mereka memang menebarkan senyum, dan masih saling mencemooh. Namun di dalam sana, tempat dimana semuanya tidak bisa dilihat melalui kedua mata nyata. Tidak dapat diketahui dengan tebakan, bahkan manusia dengan indra keenam pun tidak dapat melihat. Tempat itu terlalu abu-abu untuk kedua mata nyata ini. Tempat yang hanya bisa dilihat oleh mata hati, dan hanya orang terpilih juga yang bisa melihat. Yaitu orang dengan rasa yang sama, dan debaran yang seirama. Sava dan Nata merasakan debaran, getaran, dan rasa itu dengan 'seseorang' yang menjadi pilihan hati. Dimana hanya 'seseorang' itu yang bisa melihatnya, Namun dengan syarat, 'seseorang' itu harus mempunyai rasa yang sama dengan debaran yang seirama.
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • PROSA "Proyeksi Rasa" [END]
  • Rapuh Lalu Retak (RLR)
  • Jejak Hati di Persimpangan Takdir
  • DEVIAN [END]
  • LOVE OF THE PAST
  • Sosiologi Cinta (TAMAT)
  • Ruang Tanpa Suara
  • Yang Dicari

Bagi Alfira, persahabatan adalah ikatan tanpa komitmen. Sedangkan sahabat adalah makhluk Tuhan yang siap mendengarkan keluh kesahmu dan memberi solusi dari masalah kehidupanmu. Tapi keadaan memang tidak pernah bisa diprediksi, apa yang dimiliki juga bisa kapan saja pergi. Ketika sahabatnya pergi, Alfira benar-benar kehilangan arah tanpa arti, butuh adaptasi lagi untuk sembuh dari elegi. "Cuma lo Ra! yang menganggap persahabatan ini bukan apa-apa. Ya cuma lo!" ucap Reza kecewa. Namun, ketika semuanya kembali mampukah Alfira berdamai dengan hati? Butuh waktu yang lama untuk sembuh, butuh keadaan yang seirama untuk menempuh. Tapi, bagaimana jadinya jika aku sudah berhasil berlabuh, dengan mudahnya kau kembali dan karamkan lagi kapalku? "Kalo nggak mau jadi pacar gue oke gue terima lo tolak, tapi kalo gue lamar gimana?" ucap laki-laki yang ada dihadapannya. Lalu apa-apaan kali ini? Dengan berani dan percaya diri tingkat tinggi, dia menawarkan diri menjadi awak kapalku? Yang aku yakin, dia pasti mampu membantuku. Namun, bisakah aku melupakan masa lalu? Dan kembali menempuh perjalanan baru?

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu