Cherish

Cherish

  • WpView
    Reads 133
  • WpVote
    Votes 29
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 9, 2021
"APA? HAH? KENAPA? BELUM CUKUP PUAS?!", bentak Elan. "Elan... maaf, maafkan b-...", ucap lirih wanita itu dengan tersungkur dihadapan Elan sembari menggosok kedua tangan nya meminta pengampunan. "APA? MAAF? LU BILANG MAAF? NGACA! LU KIRA LU LAYAK DAPAT MAAF DARI GUA? LU KALAH DARI ANJING, HAHA", tawa Elan sinis. "Elan, ku mohon, maafkan b-..." "STOP! JANGAN SAMPAI GUA DENGER LU NGUCAPIN KATA YANG GA PENTING." " Oke. Lu mau gua maafkan? akan gua maafkan, dengan syarat.." Wanita itu menengadahkan tatapannya pada Elan. Laki-laki itu membungkuk dan mencengkram kedua wanita yang menatap matanya dengan nanar. Sesaat ketika laki-laki itu melihat raut wajah wanita yang sangat ia cinta sekaligus juga sangat ia benci, seperti ada sesuatu yang menghujam jantung nya. Tes... Air mata perlahan mengaliri kedua pipi Elan tanpa permisi, semakin lama semakin deras "putar waktu...", ucap Elan lirih. Terlihat tubuh ringkih wanita itu bergetar hebat mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Elan. Tapi, terlihat bahwa Elan tak peduli. "PUTAR WAKTU SAMPAI DIMANA AKU TAK AKAN PERNAH BISA TERLAHIR KE DUNIA TERKUTUK INI!!!", bentak Elan seraya menggertakkan gigi. Wanita itu menundukkan pandangannya. Ia terkulai lemas dan semakin terisak. Yang dapat Elan berikan hanyalah penyakit hati dan penyesalan untuk nya sekarang. Elan berdiri dan melepas cengkramannya dari wanita itu. "Tak bisa, kan? Kau tak akan mampu melakukan itu. Karna itu ku beri satu pilihan lain, enyahlah. ENYALAH DARI PANDANGAN KU, HIDUP KU, atau mati saja sekalian. Toh, sedari awal kita tak pernah untuk merasa saling memiliki", sarkas Elan lalu segera pergi meninggalkan wanita itu.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Stay (Away)
  • About feelings   (selesai)
  • I AM YOU [NEW VERSION]
  • Don't Escape: Look At Me, Your Devil Angel
  • DRABIA [END]
  • LIFE LINE | Of Blood, Love, and Loyalty
  • ABLUVION {COMPLETED}
  • FIZYA
  • RUANG DEPRESI [ END ]
  • COMPLICATED

⚠️Cerita Mengandung Bawang⚠️ "Lo maunya apa sih?!" Prilly mengeluarkan seringai menggodanya. Tangannya terulur menuju kerah seragam Ali, ia menarik kerah Ali hingga tubuh Ali terhempas mendekat ke arahnya. Lantas ia berbisik dengan suara seraknya, "Lo tanya mau gue? Mau gue itu cuma hati lo." "Murahan," ujar Ali sarkastik sambil menarik tubuhnya menjauh. Prilly masih mempertahankan seringaiannya. "Gue gak bakal semurahan ini kalo lo gak jual mahal sama gue," balas Prilly berusaha memepetkan tubuhnya kepada Ali. Hal itu membuat Ali berdengus jijik, enggan luluh dengan sikap Prilly. "Cih, dasar jalang!" Prilly menatap tepat di bola mata Ali, ia memonyongkan bibirnya dan memajukan dirinya seperti ingin mencium Ali. Tetapi, hal itu tentu hanya sebuah gertakan saja. "Gue gak bakal jadi jalang, kalo lo gak nolak cinta gue!" Prilly berteriak kencang tanpa memikirkan harga dirinya lagi. "Tapi, gue udah punya pacar!" Ali berdesis sembari menatap tajam Prilly. "Putusin pacar lo, terus jadian sama gue. Gampang 'kan?" Ucapan enteng Prilly membuat emosi Ali tersulut. "Lo gak cinta sama gue tapi lo terobsesi buat milikin gue. Dan itu buat lo gila!" Prilly berdecih, "Iya. Gue gila. Dan itu semua, karena lo!" Dua tahun bukanlah waktu yang singkat bagi Prilly untuk mengejar Ali dengan cara-cara murahan, dan hasilnya ia selalu ditolak mentah-mentah oleh Ali. Ini semua berawal dari Prilly yang sering mengumbar gombalan kepada laki-laki di kelasnya dan Ali adalah salah satunya, dan itu semua berakhir pada perasaan semu yang nyata. Awalnya Ali tidak pernah menganggap serius gombalan Prilly, tetapi Prilly mulai melakukan tingkah konyol, seperti saat Prilly mengumumkan kepada seluruh teman sekelasnya bahwa mereka resmi berpacaran. Hal itu membuat Ali muak dan membenci Prilly. Oleh karena tingkah murahan Prilly, Ali tidak ingin berinteraksi selayaknya teman sekelas kepada Prilly. Seringkali Ali menyuruh Prilly menjauh, namun selalu dibantah dan Prilly memilih untuk b

More details
WpActionLinkContent Guidelines