DREAMS Langit Dan Bulan

DREAMS Langit Dan Bulan

  • WpView
    Membaca 1,549
  • WpVote
    Vote 919
  • WpPart
    Bab 7
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Nov 6, 2021
WpInfo
Fiksi Penggemar
NCT
"Apa kau tau bumi dan langit itulah kita" " Seseorang bilang kalau aku kayak orang yang hidup tanpa berpikir, tapi kenyataannya tidak, aku mikirin semua hal yang bisa terjadi ketika lagi menghadapi sesuatu " " Kita selalu takut kalau ngerepotin orang lain, sebenarnya kadang yang kekgitu perlu. Aku harap kamu tau cara pegangin payung buat orang lain Dan aku harap ada orang yang bisa pegangin payung buat kamu " " Meskipun senyum itu baik, tapi aku harap orang-orang tetap senyum dengan tulus ya, karna aku pernah liat orang-orang yang nggak bahagia tapi mereka maksa buat senyum.. hati aku sakit liatnya, banyak orang tersenyum tapi di dalem dia sedih " " Rias sedikit dan coba tampil cantik! Kalaupun kamu kenal dia, kamu ngak bakal canggung~ tapi aku paham perasaan itu.. hahahahaa aku juga. Cukup pakai yang ngebuat kamu nyaman ".
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#74
nctzen
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Jejak Yang Tak Terhapus (Mark Lee)
  • OUR HIDDEN FAMILY 2: THE THRUTH UNTOLD
  • Senja Jadi Sendu (END)
  • Perihal Sandwich(End)
  • GEVRONZ
  • PRINCE PSYCHO | NA JAEMIN ✅
  • Lee Cute Jeno: Shorts 2
  • My dream is our story (NOMIN) ✿END✿

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan