Nephew Zone

Nephew Zone

  • WpView
    Reads 856
  • WpVote
    Votes 74
  • WpPart
    Parts 23
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Apr 8, 2024
"Lo cinta pertamanya, Bang!" "Tapi sekarang lo dunianya, Rael!" Hidup Renaya yang aman damai tentram, berubah rumit hanya karena dua orang yang bernama mirip. Farel, cicit kakeknya yang introvert dan dingin itu mencuri hatinya sejak kecil. Namun sayangnya, tembok penghalang untuk menggapainya adalah keluarga besarnya. Sedangkan Farael, cowok asing itu membuat hidupnya berubah. Pun perasaannya dari Farel setelah Renaya kehilangan ingatan karena dirinya. Apakah Renaya akan mengingat Farel dan tetap menyukainya? Apa bersama Farael karena cowok tampan itu selalu menemani dan tidak sengaja membuatnya nyaman?
All Rights Reserved
#102
watanabeharuto
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • ALPHABET [TAHAP REVISI]
  • A (Not) Perfect Life  [HIATUS]
  • Transmigration
  • Me Become An Extra (Arvie) ✓
  • Alencio (END)
  • Berandalan [END]
  • BAPER [COMPLETED]

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines