Untuk Raka

Untuk Raka

  • WpView
    Reads 298
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 22, 2021
"Hm." Jawab Raka, sama sekali tidak tertarik dengan ucapan Jihan. Jihan melihat sekilas kresek ditangan Raka. "Tumben. Ngapain, lo ke sini?" Raka menyodorkan kresek putih itu tanpa berkata. "Apa?" Tanya Jihan kebingungan. "Oleh-oleh." Kening Jihan berkerut. "Buat gue?" Raka berdecak. "Ck. Buat kucing, lo!" "Hah." Mata Raka melotot, "Iya, buat lo." Jawab Raka gemas. "Mata lo, gak usah melotot." Ujarnya dingin. Jihan menerima kresek itu dan melihat isinya. Gudeg. Ah, Jihan ingat. Seminggu yang lalu Om Arya pergi ke Jogja. Dan, Arya adalah Ayah dari Raka, yang memang selalu baik kepada Jihan. Berbeda sekali dengan Raka yang selalu memusuhinya. "Tolong. Bilang makasih dari gue, ke Om Arya. Maaf udah ngerepotin!" "Harusnya, lo juga minta maaf sama gue!" Kata Raka sewot. "Gue ngerasa gak bikin salah, sama lo." Jawab Jihan lempeng. Raka menunjuk kresek putih di tangan Jihan. "Lo, liat kenapa kresek putih itu ada ditangan lo," Jihan mengangguk dengan muka datar. "Karena gue yang bawa, dari rumah gue ke rumah lo." Raka mulai emosi. Masih tak paham, Jihan melihat kresek itu sekali lagi. "Kalo dia bisa jalan sendiri, mungkin Om Arya gak bakal nyuruh lo, jalan ke sini." Jihan juga menunjuk kresek berisi gudeg itu. Ngeri mendengar penjelasan tetangganya yang satu ini, Raka hanya geleng kepala. "Cewek gila." Ujarnya. "Lo, lebih gila." Balas Jihan. Bodo amat.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • Diary Ayra: Cerita Cinta SMA
  • Kelas A [End]
  • Friendship In Love
  • Rumah Tanpa Atap
  • Abu Abu [ completed ]
  • tentang sebuah rasa
  • Allya Theo Perjodohan? [On Going♡]

SEGERA DITERBITKAN Sebenarnya ini adalah idenya Liaa. Entah apa yang merasuki otaknya kali ini, sehingga memintaku untuk menulis. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, apalagi menyelesaikan suatu cerita. Tidak seperti Liaa yang sangat menikmati saat-saat merangkai setiap paragraf dalam mengembangkan idenya. Bersenandika, mengolah diksi, menulis berbagai tema, dan menuntut pancaindra agar lebih peka. Bila satu paragraf saja membuatku termenung berlama-lama, apalagi satu novel yang sampai beratus-ratus halaman tebalnya. Aku bisa gila, Liaa. Namun, gadisku yang cerewet dan berambisi besar itu pasti akan memprotes, "Kamu pasti bisa, kok, jangan pesimis, deh! Belum apa-apa udah ngeluh. Nulis itu gampang, cuma kamunya aja yang gak mau usaha!" Begitulah Liaa, dia 'illfeel' dengan orang yang angkat tangan sebelum berjuang. Alih-alih memotivasi, malah muncrat juga omelannya. "Iya, Liaa. Jangan ngambek, aku cium, nih!" Ancamanku membuat pipinya seketika memerah bak kepiting rebus. Aku sangat buruk dalam mengembangkan ide cerita. Jauh dibanding Liaa yang bisa menyelesaikan dua novel sekaligus. Ya, novel-novel itu adalah kisah kami yang dia tulis. Tugasku cukup diam dan jangan membuatnya marah. Jika tidak, Liaa akan berhenti menulis dan mengomel seperti ibu-ibu kostan. Karena sejatinya waktu terbaik untuk menulis adalah 'mood' yang baik.

More details
WpActionLinkContent Guidelines