Merpati Kelabu

Merpati Kelabu

  • WpView
    Reads 393
  • WpVote
    Votes 62
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 3, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Naya tak pernah benar-benar sembuh dari luka itu. Tidak, kata sembuh tak pernah ada dalam rangkaian perjalanannya. Semesta telah berhasil membawanya pergi jauh dari luka itu. Nahas, bak sepasang merpati putih yang selalu menemukan rumahnya, luka itu kembali membawa rangkaian memori kelam yang tak pernah dirindukannya. Naya benci luka. Naya terlampau nyaman dalam sebuah kosa kata baik-baik saja daripada harus kembali kehilangan bahagianya. Apakah Naya akan terus memeluk baiknya yang semu? Bagaimana dengan memori menyebalkan itu? Apakah luka itu kembali dengan sebuah makna? Apakah Naya mampu merengkuh makna itu?
All Rights Reserved
#14
semu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Benalu [Terbit]
  • KEISYA STORY (Terbit) ✔
  • Aluka (Proses Penerbitan)
  • Jika esok Tak Pernah Ada
  • Senja Terakhir Semesta✔️
  • Interweave
  • REGA
  • SEÑORITA
  • RUANG DEPRESI [ END ]
  • Menyerah atau Bertahan?

"Bahkan ibunya sendiri membuang anak itu." Semesta pun menghiraukannya, seperti bayangan yang tak pernah di anggap ada, seperti benalu yang tidak pernah di inginkan kehadirannya. *** Nyatanya, ada hasil yang menghianati usaha dan tidak semua usaha akan di kabulkan dengan hasil yang baik. Ya, Teresa sadar hal baik tidak akan pernah ada dalam kisah hidupnya. Benalu akan tetap menjadi benalu, sang penganggu yang tak pernah di inginkan ada. Tangisan pilu selalu keluar dari mulutnya yang menyimpan banyak kisah luka, entah waktu kecil atau bahkan sampai sekarang. "Seharusnya anak seperti kamu tidak lahir dari rahim saya!" ucap wanita itu dengan tatapan penuh kebencian. Teresa Audiyatama. Seseorang yang berusaha menghilangkan label 'benalu' dan 'anak pembawa sial' di dalam diri dengan berbagai cara. Sakitnya di permainkan, di jadikan alat balas dendam, mendapat penghianatan yang begitu menyakitkan, sampai harus kehilangan orang-orang yang di sayangi. Tapi, kenapa semesta masi tidak mau berbaik hati padanya? Rasa sakit itu semakin menyakitkan. Setiap hari lubang kelam di hati semakin dalam, menyisahkan kekelaman yang mengerikan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines