Ganendra Alterio

Ganendra Alterio

  • WpView
    Reads 128
  • WpVote
    Votes 80
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 13, 2021
Sejak pertemuan pertama Ara dan Eric, mereka selalu terlibat hal yang sama dan tidak bisa menghindar. Menurut Eric baru kali ini ada yang menatapnya rendah, sedangkan selama ini yang didapatkannya hanya pandangan memuja. Eric bisa membuat semua orang tunduk tapi tidak dengan Ara-nya. Bagi Ara, Eric hanya bocah pembuat onar yang sempat menghalangi jalannya waktu itu. Ara benci keributan dan sialnya dia terjebak karena tidak sengaja ikut campur dalam perkelahian Eric waktu itu. Semua pengaruh buruk Eric menyulut emosi Ara. Terlebih taruhan yang dibuat Eric membuat mereka berdua terjebak dengan permainannya sendiri. Lantas apakah Ara bisa mengimbangi permainan Eric? atau Eric sendiri yang dibuat kewalahan dengan permainan yang diciptakannya. - start : July, 2021 end : -
All Rights Reserved
#612
lucu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Game Over: Bull's Eye
  • BCS : RAGALATIFA [PREVIEW] TAHAP REPUBLISH
  • DEVIAN [END]
  • FORTE [COMPLETED]
  • RAISEN
  • My Perfect Hubby (END)
  • RelKan [COMPLETED]
  • KEARA (Keanu & Aura)✓
  • UNIDADE [COMPLETED]
  • You Don't Know

[2] TERBIT 📖 - Game Over adalah nama lain dari taruhan. Game Over sedang berlangsung, tetapi tidak ada yang tahu tentang Game Over bayangan. Riri dihadapkan oleh sesuatu yang tidak biasa, yang tidak disadarinya. Tentang permainan aneh bernama Game Over yang ada di SMA Tabula Rasa yang rumornya dijalankan oleh sebuah geng rahasia. Tiba-tiba saja, bukan hanya satu cowok yang mendekat, tetapi lima. Mereka mendekati Riri dengan tiba-tiba, aneh, dan ... unik. Namun, di antara mereka perhatian Riri hanya tertuju pada satu. * "Pacaran, yuk?" "Lo ... barusan itu apa?" Riri menunduk gelisah memainkan jemarinya. "Gue nembak lo." Balasan cowok itu semakin membuat Riri sulit mengeluarkan suara dan terus gelisah menyembunyikan wajahnya yang merona. "Kalau lo setuju, kita pacaran." "Kalau enggak?" "Nggak pacaran." Riri memberanikan diri mendongak. Senyum itu lagi beserta tatapan yang akan selalu terbayang di ingatan Riri. "Ma-mau, sih," balas Riri gugup. "Gue juga mau, sih," balas cowok itu sambil menunduk dan menepuk puncak kepala Riri berkali-kali. [] copyright©2020, by sirhayani

More details
WpActionLinkContent Guidelines