We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Second life (On hold)

Second life (On hold)

  • WpView
    Reads 438,249
  • WpVote
    Votes 37,803
  • WpPart
    Parts 18
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 7, 2023
WpInfo
Fiction
Fantasy
Hari eksekusiku berlangsung saat aku berumur 20 tahun. Aku tertawa hambar. Mereka lebih percaya percaya Carolin dan melupakan fakta yang tersembunyi Bagi mereka akulah sang antagonis. Yang tak pantas hidup dan bernapas. Semua perkataanku hanya angin lalu bagi mereka. Di hari aku berpikir akan mati. Aku hidup kembali di umur 18 tahun, 2 tahun sebelum kematianku. Bukannya aku tak bersyukur dengan kesempatan ini, tapi diumurku itu aku telah membuat banyak kesalahan. Aku tak berminat untuk memperbaikinya Aku sudah lelah. Aku memutuskan untuk mejalani hidup, dan kembali menunggu eksekusi di umur 20 tahun.
All Rights Reserved
#3
menyerah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • ANDROMEDA (END)
  • Doctor Lil-Daddy [END]
  • Married at First Sight : The Antagonist's Bride
  • I Became The Antagonist
  • THORNE [Ongoing]
  • transmigrasi gadis pemalas[END]
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines