Dear Captain, where do we land?
Aksa dan Alindra sudah terlalu lama bersama untuk mempertanyakan masa depan. Tanggal pernikahan mulai dibicarakan, dua keluarga sudah saling mengenal, dan hidup mereka seolah tinggal menunggu waktu untuk benar-benar dimulai.
Lalu sebuah penerbangan membawa Aksa ke Perth. Di sana, ia bertemu Louisa-seorang arsitek dengan kehidupan, keluarga, karier, dan masa depan yang sama sekali tidak membutuhkan seorang pilot dari Bali. Aksa seharusnya hanya seseorang yang singgah. Namun satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar, dibangun di atas satu kebenaran yang sengaja tidak pernah ia ceritakan.
Ketika semuanya terbongkar, Louisa pergi membawa lebih dari sekadar patah hati.
Bertahun-tahun kemudian, Alindra telah menjadi istri Aksa. Louisa membangun kembali hidupnya di Perth dan membesarkan anaknya tanpa menunggu siapa pun kembali. Lalu hadir Theo, seorang pilot yang tidak datang untuk menggantikan siapa pun, hanya hadir cukup lama hingga menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Kini empat orang dengan cinta, luka, keluarga, dan kepentingannya masing-masing berdiri di persimpangan yang sama.
Aksa ingin memperbaiki sesuatu yang dulu ia tinggalkan.
Louisa tak ingin hidup anaknya diguncang oleh penyesalan seseorang.
Alindra menolak kehilangan rumah tangganya karena rahasia yang tidak pernah ia pilih.
Theo pun harus menentukan seberapa jauh ia akan bertahan untuk keluarga yang tidak dibentuk oleh darah, tetapi sudah telanjur ia sayangi.
Tentang siapa yang berhak tinggal, siapa yang harus melepaskan, apakah darah selalu berarti rumah, dan apakah datang kembali masih bisa disebut pulang ketika orang-orang yang ditinggalkan sudah belajar hidup tanpamu. Mereka semua tahu dari mana perjalanan ini dimulai. Hanya saja, tidak semua perjalanan membawa seseorang kembali ke tempat yang sama.
Some people leave, some stay, and some arrive too late. But every heart still has to find somewhere to land.