We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Mengikhlaskan

Mengikhlaskan

  • WpView
    Reads 18
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 22, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Kalian beruntung yang saat ini mempunyai pasangan untuk saling melengkapi, seseorang yang membuat kamu berhenti mencari. Tetapi, apa yang terjadi jika orang yang kamu cintai memilih untuk pergi? Aku tidak pernah membayangkan kalau akhirnya perjalanan cinta yang selama ini aku perjuangkan gagal dipertengahan. Aku menyerah, aku menyerah bukan tidak lagi sayang atau cinta, melainkan aku harus bisa mengikhlaskan kepergianmu. Perlahan dan bertahap, dengan perasaan yang sabar serta tulus ini, aku pastikan aku akan mengikhlaskan kamu untuk pergi. Ya walaupun tidak sepenuhnya atau seratus persen aku benar-benar ikhlas, untuk ikhlas setidaknya harus dibarengi dengan hati yang penuh penerimaan dan memasrahkan segalanya kepada sang Khalik
All Rights Reserved
#2
pradipta
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • obsesi seorang mantan pacar
  • (End) Ketika Hanya Hati yang Saling Bicara
  • Real Sour
  • Air Mata Cinta
  • Segala Luka Diatas Duka
  • MENCINTAIMU, SEINDAH TUHAN MENCIPTAKANMU
  • Takdir Sang Ilahi
  • DikaRanggi

❝Keputusan berat yang harus aku ambil, demi menjagaku juga menjagamu adalah menjauhimu. Bukan karena benci, tapi karena aku mencintaimu. Semata agar kau dan aku tidak terjerumus dalam syahwat yang hina.❞ Begitulah kutipan tulisan yang aku tulis dan kutujukan untuk seseorang, cinta pertamaku. Assalamu'alaikum ... aku Rania Andinadya. Jika kamu bertanya kisah ini mengisahkan tentang apa ... ini tentang perjalananku dalam menemukan hingga harus belajar mengikhlaskan cinta pertamaku. Aku, begitu mencintai dia. Namun anehnya, aku sama sekali tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padanya. Sampai suatu masa, ketika cintaku mulai terbalaskan, hidayah-Nya perlahan-lahan mengetuk pintu hatiku. Aku pun menyadari, aku dan dia tidak seharusnya sering berinteraksi, demi menghindari syahwat yang hina. Meski telah berhijrah, cintaku kepadanya masih sama. Dalam diam, aku tetap mencintai dan mendo'akan kebaikan untuknya. Tapi, siapa sangka takdir malah berkata lain. Setelah menjauhinya sebab cinta, ia telah menemukan pujaan hatinya. Lantas aku berusaha mengikhlaskan, meskipun ikhlas adalah suatu hal yang teramat pelik. Dan satu pertanyaan terus mengusik pikiranku ... mampukah aku mengikhlaskannya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines