Story cover for Perempuan Virtual by Catatangalihramadhan
Perempuan Virtual
  • WpView
    Membaca 510
  • WpVote
    Vote 195
  • WpPart
    Bab 9
  • WpView
    Membaca 510
  • WpVote
    Vote 195
  • WpPart
    Bab 9
Bersambung, Awal publikasi Jul 15, 2021
Kutuliskan kata yang menjadi kalimat sederhana. menjelaskan tentang perempuan yang sedang ada dalam cerita ini. 

Seseorang yang lugu kaku. membias Imajinasiku. mencari kesana kemari. berlari hingga kutemukan dia dibalik pohon rindang di samping kursi taman. sekilas kutatap wajahnya, matanya yang kian lama kian kelihatan mengeluarkan air luka. 

ia membawaku kedalam cerita tentang apa yang sudah ada sebelumnya. cerita ini hanya aku dan dia yang tahu. selebihnya akan kutuangkan dalam ketikan ketikan tombol ini. agar kalian ikut larut dalam luka dan ending yang bahagia. 

Meski virtual tapi dia selalu ada dalam kehidupan nyata.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Daftar untuk menambahkan Perempuan Virtual ke perpustakaan kamu dan menerima pembaruan
atau
#10wattpadquotes
Panduan Muatan
anda mungkin juga menyukai
Eyes That Never Looked Back I LingOrm [Bahasa Indonesia] oleh shazzy1612
48 bab Lengkap Dewasa
DISCLAIMER Cerita ini sepenuhnya fiksi. Tidak ada hubungannya dengan kejadian, individu, atau entitas di dunia nyata, baik yang masih hidup maupun yang telah tiada. Kesamaan apa pun hanyalah kebetulan belaka dan tidak disengaja. Ling Ling Kwong & Orm Kornnaphat, tentu saja, adalah gadis-gadis yang luar biasa dan tidak seperti karakter yang digambarkan dalam fanfiksi ini. Ingat, ini hanyalah fanfiksi! Selamat membaca! **Semua foto dikreditkan kepada pemiliknya masing-masing. Prolog Pertama kali Ling bertemu Orm, usianya enam tahun. Ia bersembunyi di balik kaki ibunya di sebuah kafe yang ramai, penuh dengan aroma kopi segar yang menyelimuti udara. Itu adalah tempat favorit orang tuanya, meski Ling sendiri jarang memperhatikannya-hingga hari itu tiba. Orm, seorang gadis kecil dengan celemek yang kebesaran, berdiri di belakang meja kasir dengan bertumpu pada ujung jari kakinya, menyusun paket gula dengan penuh konsentrasi. Ia mendongak, menatap mata Ling, lalu tersenyum lebar. "Mau bantu?" tanya Orm, sambil menyodorkan satu paket gula. Ling ragu. Ia belum pernah diajak melakukan hal yang begitu biasa sebelumnya. Tapi nada hangat dalam suara Orm terasa berbeda dari sapaan sopan yang biasa ia dengar. Sejak saat itu, Ling dan Orm tak terpisahkan. Perbedaan di antara mereka tak pernah menjadi masalah. Ling dengan gaun desainer dan mobil antar-jemputnya, sementara Orm dengan pakaian sederhana, selalu beraroma kopi dan roti panggang hangat. Mereka membangun dunia mereka sendiri di dalam kafe kecil itu, berbagi rahasia, impian, dan tawa. Tapi ada hal-hal yang tak pernah terucap. Orm tak pernah memberitahu bahwa jantungnya selalu berdegup kencang setiap kali Ling tersenyum padanya. Dan Ling? Ia tidak menyadari apa pun. Ia percaya bahwa takkan ada yang berubah di antara mereka. Hingga hari saat ia jatuh cinta pada orang lain.
anda mungkin juga menyukai
Slide 1 of 9
Eyes That Never Looked Back I LingOrm [Bahasa Indonesia] cover
Just A Friend cover
Paper Hearts cover
You're My Heartstrings [SUDAH TERBIT) cover
Fall in love with Ghost cover
[END] Blind Rainbow cover
DENTING  [Revisi] cover
Catatan rasa cover
The Immortal's Undoing cover

Eyes That Never Looked Back I LingOrm [Bahasa Indonesia]

48 bab Lengkap Dewasa

DISCLAIMER Cerita ini sepenuhnya fiksi. Tidak ada hubungannya dengan kejadian, individu, atau entitas di dunia nyata, baik yang masih hidup maupun yang telah tiada. Kesamaan apa pun hanyalah kebetulan belaka dan tidak disengaja. Ling Ling Kwong & Orm Kornnaphat, tentu saja, adalah gadis-gadis yang luar biasa dan tidak seperti karakter yang digambarkan dalam fanfiksi ini. Ingat, ini hanyalah fanfiksi! Selamat membaca! **Semua foto dikreditkan kepada pemiliknya masing-masing. Prolog Pertama kali Ling bertemu Orm, usianya enam tahun. Ia bersembunyi di balik kaki ibunya di sebuah kafe yang ramai, penuh dengan aroma kopi segar yang menyelimuti udara. Itu adalah tempat favorit orang tuanya, meski Ling sendiri jarang memperhatikannya-hingga hari itu tiba. Orm, seorang gadis kecil dengan celemek yang kebesaran, berdiri di belakang meja kasir dengan bertumpu pada ujung jari kakinya, menyusun paket gula dengan penuh konsentrasi. Ia mendongak, menatap mata Ling, lalu tersenyum lebar. "Mau bantu?" tanya Orm, sambil menyodorkan satu paket gula. Ling ragu. Ia belum pernah diajak melakukan hal yang begitu biasa sebelumnya. Tapi nada hangat dalam suara Orm terasa berbeda dari sapaan sopan yang biasa ia dengar. Sejak saat itu, Ling dan Orm tak terpisahkan. Perbedaan di antara mereka tak pernah menjadi masalah. Ling dengan gaun desainer dan mobil antar-jemputnya, sementara Orm dengan pakaian sederhana, selalu beraroma kopi dan roti panggang hangat. Mereka membangun dunia mereka sendiri di dalam kafe kecil itu, berbagi rahasia, impian, dan tawa. Tapi ada hal-hal yang tak pernah terucap. Orm tak pernah memberitahu bahwa jantungnya selalu berdegup kencang setiap kali Ling tersenyum padanya. Dan Ling? Ia tidak menyadari apa pun. Ia percaya bahwa takkan ada yang berubah di antara mereka. Hingga hari saat ia jatuh cinta pada orang lain.