Hati Yang Lelah

Hati Yang Lelah

  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Aug 27, 2022
Namanya Assyifa, seorang ramaja bisa yang menjalani hidupnya yang luar biasa. Hidup berdua dengan sang Bunda, bukanlah sesuatu yang membuatnya bersedih. Baginya broken home bukanlah hambatan. Disaat anak seusianya menghabiskan banyak waktu untuk bermain dan bersenang-senang, ia berbeda. Disaat anak-anak seusianya membanggakan Ayah mereka, maka ia sangat mengagumi sosok sang Bunda. "Aku tidak membutuhkan simpati dan rasa kasihan Anda, aku hanya membutuhkan Bundaku. Bundaku yang membesarkanku dengan kasih sayang, bukan Anda yang tiba-tiba muncul setelah saya dewasa. Aku tidak membutuhkan seorang Ayah yang kubutuhkan hanya Bundaku. Aku lelah, Hatiku lelah dengan semua ini. Kumohon pergilah, anggaplah semua ini tidak pernah terjadi. AKU BUKAN PUTRIMU" Assyifa.
All Rights Reserved
#862
muslim
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Lembaran Luka | Jay Enhypen (END)
  • Diary Untuk Calon Imamku [COMPLETED]
  • Cinta untuk Aisha
  • Bidadari untuk Ayahku [END!]
  • RUMAH KITA
  • SAMUDRA BERCERITA || END
  • Sebuah Takdir
  • AIRA [On Going]
  • Langkah (By Auzizahirah)

Tentang lembaran luka Zaki Arshandra Bagaskara. Dia, laki-laki yang harus menerima kenyataan pahit hidupnya. Hidupnya yang kelam dan hancur, ia juga harus menerima kenyataan bahwa ia terdiagnosa penyakit kanker hati. Hidupnya tidak dikelilingi oleh orang-orang yang baik. Meskipun begitu, ia selalu menyematkan prinsipnya, "Sekalipun kebaikanku tidak terbalaskan kembali, atau bahkan tidak mendapatkan penghargaan, aku tidak akan lelah untuk terus berbuat baik." -Zaki Arshandra Bagaskara. Zaki tidak pernah mendapat perlakuan baik dari orang orang sekitarnya. Dunia tidak pernah ramah kepadanya. Namun, meskipun begitu, ia selalu ramah kepada dunia. Saat Zaki melihat anak-anak yang tertawa lepas dalam genggaman tangan orang tuanya, ia hanya bisa tersenyun pedih dan menangis tiap malam di pojokan kamar. "Andai aku punya benteng sekokoh papa mereka, dan aku juga ingin punya malaikat sebaik ibu mereka. Andai Tuhan sebaik itu. Andai saja." -Zaki Arshandra Bagaskara. Zaki si anak PMR, yang selalu siap sedia membantu mereka yang sakit, tak peduli pada dirinya sendiri yang padahal juga sakit. PMR adalah ekstrakulikuler yang paling Zaki suka. Dalam ekstrakulikuler itu, ia belajar banyak materi untuk mengobati segores luka, karena itu, ia bisa membantu orang orang yang terluka. "Karena aku tidak bisa menyembuhkan lukaku sendiri, aku akan merasa bangga jika bisa menyembuhkan luka orang lain." Ada setitik tenang yang tidak pernah Zaki dapati di hiruk pikuk manapun. Sunyi adalah tempat paling baik untuk Zaki memeluk diri. Sebab ramai tak selalu ramah untuk penyendiri. Dan satu lagi, ketika Zaki berulang tahun, do'a yang selalu ia panjatkan adalah, "Aku ingin punya teman baik dan keluarga yang harmonis."

More details
WpActionLinkContent Guidelines