Warna & Kana | HRJ
  • Reads 161
  • Votes 39
  • Parts 9
  • Reads 161
  • Votes 39
  • Parts 9
Ongoing, First published Jul 17, 2021
"Kana, aku mau melukis sebagus kamu. Boleh?" 
"Aku mau punya raga sesehat kamu. Boleh?"

𝐖arna-warni lukisan taruna itu mampu membuat siapapun yang melihatnya tersenyum merekah. Mencampur berbagai macam warna menjadi sekanvas goresan indah, tanpa memberitahu kalau lukisan itu diciptakan dari amarah dan gelisah.

𝐓entang 𝗥𝗮𝗸𝗮𝗻𝗮 𝗔𝗸𝘀𝗮𝗿𝗮𝗷𝘂𝗮𝗻. Pemilik tangan emas yang menjadikan kanvas sebagai bilik kecil untuk melampiaskan kesakitan. Kesendirian dan kehilangan, adalah hal yang berusaha ia ikhlaskan.
All Rights Reserved
Sign up to add Warna & Kana | HRJ to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
Dosa Ku cover
Kisah Tak Sempurna cover
Kesayangan Bunda cover
Little Dumplings cover
The Qonsequences cover
He Fell First and She Never Fell? cover
Rafa  cover
𝐒oerabaja, 1730 cover
After Graduation cover
Ziel Alexander Dominic [PDF]✔️ cover

Dosa Ku

69 parts Ongoing

Liu Qiaqio, Permaisuri Dinasti Jin, telah menyerahkan hati, jiwa, dan raganya untuk sang kaisar. Dia mencintainya dengan sepenuh hati hingga merasa lelah, tetapi sang kaisar yang dingin hanya memiliki mata untuk satu orang, dan orang itu bukanlah dirinya. Kehangatan di mata kaisar saat memandang orang itu tidak pernah menjadi miliknya, kelembutan suara kaisar saat berbicara dengan orang itu tidak pernah ditujukan padanya, bahkan hingga ajal menjemput. "Apa salahku sehingga kau membenciku sejauh ini? Apa aku telah melakukan kesalahan sehingga kau memandangku dengan begitu hina? Apakah mencintaimu adalah dosa yang begitu besar?" tanyaku dengan lemah. "Dosamu adalah mencintai seseorang yang seharusnya tidak kau cintai," jawabnya dingin. 'Dia benar, aku telah menghabiskan terlalu banyak cinta untuknya hingga aku tidak punya sisa cinta untuk anak-anakku, untuk mereka yang benar-benar peduli padaku. Jika aku diberi satu kesempatan untuk menebus semua itu, aku akan menghabiskan seluruh hidupku melakukannya,' pikirku sembari menutup mata dan menyambut kematian. Atau begitulah pikirku.