Dew, mahasiswa Arsitektur tingkat dua yang dingin, perfeksionis, dan hidup dalam garis presisi, tidak pernah membayangkan dunianya akan diacak-acak oleh Tee, mahasiswa baru jurusan Seni Rupa yang ceria dan penuh kehangatan. Pertemuan tak terduga di koridor kampus-berawal dari kotak kuas yang jatuh hingga diskusi singkat tentang arah cahaya dan titik lenyap-perlahan mengikis jarak di antara mereka. Bagi Dew, segala sesuatu harus memiliki perhitungan struktur yang jelas. Namun, hadirnya Tee yang peka dan artistik membawa warna baru dalam sketsa hidup Dew yang kaku. Sebaliknya, Tee menemukan ketenangan dan perlindungan di balik perhatian-perhatian kecil yang selalu ditunjukkan oleh sang senior. Ketika keduanya disatukan dalam proyek pameran seni dan arsitektur tahunan, batas antara profesionalitas senior-junior perlahan meluruh. Di antara malam-malam panjang di studio, cangkir kopi hangat, dan riak cemburu ringan, mereka belajar menyatukan dua cara pandang berbeda: presisi struktur milik Dew dan kebebasan rasa milik Tee, demi menemukan satu titik fokus tempat perasaan mereka bermuara. ____ DTM🤍
Meer details