Hai, Jen!

Hai, Jen!

  • WpView
    LECTURAS 17
  • WpVote
    Votos 3
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, ago 23, 2021
"Kita memang dipersatukan oleh perbedaan. Tangan yang merangkul dan menggenggam membuat kita sadar, bahwa hidupmu dan hidupku memang akan terus berjalan." "Kita peduli dengan cara yang berbeda." "Aku punya kekurangan." "Bukankah kita sahabat?" Cerita ini akan membawa kita ke rangkulan persahabatan dan harmonisasi keluarga. Bagaimana caramu menempatkan diri dan menerima takdir yang mungkin sesuram PH dadakan. Dan seberapa keras perjuanganmu untuk meraih impian. "Kamu menolakku?" Rajendra mengelus surai gadis itu yang terdiam menunduk. "Ndak papa Sonia." Dia tersenyum. "Masih ada esok untuk berjuang dan menarikmu kembali." Rajendra menggenggam tangan Sonia. "Sampai kamu menerima dan kita bersama." Yakinnya bersungguh-sungguh. ©StoryDwiisel
Todos los derechos reservados
#43
firman
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Jovanka dan Abang Kembar
  • A Memory to Remember
  • Nata, De & Coco
  • BINTANG SEJAJAR
  • Hilang
  • KARAFERNELIA
  • [ √  ] AMERTA ¦ Ft Huang Renjun
  • Not Your Fault [SELESAI]
  • Cahaya Redup [END]✓

Hendra dan Narendra Dewantara terlahir dengan beban yang tak mereka mengerti. Sejak kecil, mereka harus mendengar bisikan-bisikan bahwa mereka adalah anak pembawa sial. Namun, di balik semua itu, mereka masih memiliki kasih sayang dari kedua orang tua mereka-setidaknya hingga bayi kecil itu lahir. Jovanka, adik bungsu mereka, hadir ke dunia dengan membawa perubahan besar. Kehadirannya mengubah segalanya. Orang tua mereka, Dewantara dan Cinthya, yang dulu begitu menyayangi mereka, perlahan menjauh. Semua perhatian, semua kasih sayang, semua harapan yang dulu diberikan untuk mereka, kini hanya tertuju pada satu sosok-Jovanka. Hendra dan Narendra tumbuh dengan kebencian yang tak mereka pahami. Bagi mereka, Jovanka adalah alasan mereka kehilangan orang tua. Bayi mungil itu adalah penyebab semua kehancuran. Maka, tanpa sadar, mereka ikut menjauh. Mereka membiarkan adik mereka tumbuh sendirian dalam dingin, tanpa pelukan hangat seorang kakak. Namun, waktu mengajarkan mereka banyak hal. Perlahan, kebenaran terungkap. Luka yang selama ini mereka kira milik mereka saja, ternyata juga terukir dalam diri Jovanka. Dan saat mereka menyadari itu, sudah terlambat. Adik mereka telah berjalan terlalu jauh dalam gelap, terjebak dalam luka yang tak pernah mereka lihat. Kini, di antara penyesalan dan keinginan untuk menebus segalanya, Hendra dan Narendra berjanji. Mereka tidak akan membiarkan Jovanka menghadapi semuanya sendirian lagi. Tidak peduli berapa banyak duri yang harus mereka lalui, tidak peduli seberapa terlambat mereka menyadarinya-mereka akan memastikan adik mereka tidak lagi merasa sendirian. Namun, apakah cinta dan penyesalan cukup untuk menyembuhkan luka yang telah terukir begitu dalam? Ataukah semua ini sudah terlambat? Karena tak peduli seberapa besar keinginan mereka untuk melindungi, pada akhirnya hanya ada satu pertanyaan yang harus dijawab: apakah seorang pangeran yang telah kehilangan mahkotanya masih bisa menemukan rumahnya?

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido