Sekilas Bahagia

Sekilas Bahagia

  • WpView
    Reads 336
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 2, 2021
𝓙𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓶𝓮𝓷𝓰𝓾𝓴𝓾𝓻 𝓴𝓮𝓫𝓪𝓱𝓪𝓰𝓲𝓪𝓪𝓷 𝓫𝓮𝓻𝓭𝓪𝓼𝓪𝓻𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓮𝓫𝓪𝓱𝓪𝓰𝓲𝓪𝓪𝓷 𝓸𝓻𝓪𝓷𝓰 𝓵𝓪𝓲𝓷. -ℝ𝕒𝕚𝕟𝕒 𝕘𝕚𝕤𝕙𝕒𝕣𝕒. 𝙿𝚎𝚛𝚔𝚎𝚗𝚊𝚕𝚔𝚊𝚗 𝚗𝚊𝚖𝚊𝚔𝚞 𝚁𝚊𝚒𝚗𝚊, 𝚁𝚊𝚒𝚗𝚊 𝚐𝚒𝚜𝚑𝚊𝚛𝚊.𝚔𝚊𝚕𝚊𝚞 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚑𝚊𝚜 𝚔𝚊𝚛𝚊𝚔𝚝𝚎𝚛 𝚔𝚞 𝚊𝚔𝚞 𝚝𝚊𝚔 𝚋𝚒𝚜𝚊 𝚖𝚎𝚗𝚓𝚎𝚕𝚊𝚜𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚛𝚗𝚊 𝚒𝚝𝚞 𝚝𝚞𝚐𝚊𝚜 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚕𝚊𝚒𝚗 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚘𝚖𝚎𝚗𝚝𝚊𝚛𝚒 𝚔𝚊𝚛𝚊𝚔𝚝𝚎𝚛𝚔𝚞 𝚑𝚊𝚑𝚊.... 𝚃𝚞𝚑𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚕𝚞 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚒𝚗𝚐𝚒𝚗𝚔𝚊𝚗, 𝚝𝚊𝚙𝚒 𝚙𝚊𝚜𝚝𝚒 𝚖𝚎𝚗𝚌𝚞𝚔𝚞𝚙𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚋𝚞𝚝𝚞𝚑𝚔𝚊𝚗. 𝚃𝚊𝚔𝚍𝚒𝚛 𝚜𝚎𝚍𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚎𝚗𝚓𝚊𝚕𝚊𝚗𝚔𝚊𝚗 𝚝𝚞𝚐𝚊𝚜𝚗𝚢𝚊, 𝚍𝚒𝚖𝚊𝚗𝚊 𝚔𝚎𝚋𝚊𝚑𝚊𝚐𝚒𝚊𝚊𝚗 𝚔𝚎𝚕𝚞𝚊𝚛𝚐𝚊 𝚁𝚊𝚒𝚗𝚊 𝚑𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚔𝚒𝚕𝚊𝚜 𝚜𝚊𝚓𝚊. [•••] Menghembuskan nafas berat. "Gue gagal jadi anak Bunda, " "Keadilan dimana si? K-kenapa bunda gue ga bisa bahagia masalah selalu datang dan gue sebagai anaknya ga bisa lindungi dia dari masalah ini" "Gue bahkan belum bisa buat bunda bahagia hiks hiks hiks, "ucap Raina frustasi
All Rights Reserved
#154
raina
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Raga Arga  [Sudah Terbit]
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Let Me Love You Longer
  • ASMARALOKA || Love or Reality?
  • AFTER RAIN : 10 YEARS LATER [☑]
  • CARAKU MENDAPATKANMU
  • BETWEEN
  • Crush on You
  • Deberìa Redirme? (End)

Jika ditanya apa yang spesial dari kehidupan si kembar, Raga dan Arga, mungkin jawabannya tidak ada, andai keduanya tidak pandai-pandai bersyukur. Bagaimana tidak, kepergian sang bunda menjadi titik awal kehidupan mereka yang sesungguhnya. Getir pahit melekat di dalamnya. Arga disalahkan oleh neneknya atas kepergian sang bunda. Lantas rasa bersalah dan trauma yang begitu besar terpatri kuat dalam dirinya, sejak saat itu hidupnya berubah seiring dengan jiwa yang bergonta-ganti mengisi raganya. Kadang, ketika bangun tidur Arga akan merengek layaknya anak kecil yang mencari bundanya. Kadang juga Arga menjadi sosok yang membenci dirinya sendiri, menghancurkan cermin yang ada di kamarnya, lalu berujung menyakiti dirinya sendiri. Raga, nyatanya wajah tampan dan unggul dalam basket tak lantas membuatnya dipandang. Bagi teman sekelasnya, Raga tak lebih dari sampah yang harus cepat-cepat dibersihkan. Bukan Raga tak mau melawan mereka, hanya saja rasanya percuma, mereka terlanjur menjadi budak sekolah yang gila nilai. Lalu, mampukah keduanya menjalani dan melawan segala getir pahit dalam kehidupan? Atau memilih menyerah, berpasrah pada Tuhan? *** Bukan skenario hidup seperti ini yang aku inginkan, memerani tiga tokoh sekaligus dalam satu kali kesempatan hidup. Andai bisa aku ingin terlahir kembali menjadi aku yang hanya satu- Samudra Arga Pratama Aku lelah menjadi senja yang ditunggu dan dikagumi di penghujung waktuku-Samudra Raga Dwitama *** Takkan gugur daun yang menguning itu jika memang belum habis waktunya. Takkan turun rintik hujan itu sekalipun langit telah menggelap jika memang belum saatnya. Pun dengan jantung yang takkan berhenti berdetak jika memang Tuhan belum berkehendak.

More details
WpActionLinkContent Guidelines