Woman In Post Traumatic Stress Disorder

Woman In Post Traumatic Stress Disorder

  • WpView
    Reads 51
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Sep 11, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Sekejam apapun takdir yang menerpa hidupmu kamu harus tetap menjalani kehidupan yang penuh dengan misteri ini dengan sebaik-baiknya. ____________________________________ Matanya perlahan terbuka dan memperhatikan sekeliling. Hanya ada pohon-pohon lebat, langit biru yang begitu cerah serta beberapa tetes air yang jatuh mengenai keningnya. Baru saja terjadi hujan. "Tunggu kenapa aku bisa pingsan!?" ucapnya setelah kesadaran penuh mengisi otaknya. Terpisah dari rombongan bukan hal yang mudah terlebih kejadian aneh yang baru saja menimpanya membuat kehidupannya berubah dan mengalami berbagai kejadian tak masuk akal. ____________________________________ Kisahnya pilu. Tak terhitung sudah berapa rasa sakit yang ia derita hingga membuatnya tidak tahu mana jalan untuk pulang. Rindunya menggunung hingga tak terasa hingga menjadi gumpalan hitam yang merusak otak. Mengeras dan menyakitkan. Kisah ini akan mengajarkan kita banyak hal. Mengenai kesetiaan, kehangatan keluarga, dan bertahan hidup.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ASHLEY
  • [END] WHAT WE HAVE PASSED TOGETHER?
  • Let Me Love You Longer
  • Memories in Moon
  • Destiny ✓
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Korban silaturahmi [TAMAT]
  • The Light I Found in You on the Bridge | END✔️
ASHLEY

Rumah yang beratapkan jerami, berdindingkan kayu mahoni yang mulai keropos, berlantaikan tanah padat, hiduplah keluarga kecil yang terdiri ayah dan anak perempuannya. Keluarga ini jauh bila dikatakan keluarga yang bahagia, karena setiap hari selalu ada perkara yang hadir. Suara tamparan, bentakan, dan suara lainnya yang lebih mengerikan, seakan akan tak ada hentinya terdengar. Anak perempuannya yang masih berumur delapan tahun itu, sudah merasakan kekerasan dari orang tuanya sendiri. Anak sekecil itu menahan rasa sakit yang seharusnya tak dirasakannya. Apakah takdir akan terus membuatnya menderita? Apakah suatu hari nanti penderitaannya akan selesai, dan dia bebas dari rantai yang membelenggu? . . . . . . . Karya ini hanya fiksi yang dibuat oleh penulis, jika ada kesalahan, penulis memohon maaf yang sebesar - besarnya. . . . . DILARANG PLAGIAT

More details
WpActionLinkContent Guidelines