PAMIT
  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 23, 2021
Ayu adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya sedang sakit komplikasi dimana harus benar-benar menjaga pola makannya. Suatu hari Ayahnya ingin minum minuman isotonic tetapi dilarang oleh Ayu dan keluarganya karena minuman tersebut sangat berbahaya. Keesokan hari, Ayahnya berangkat ke Lab untuk melakukan check up tubuh. Hasil telah keluar dan dokter menyatakan sang ayah terkena kanker usus. Ayu dan keluarganya ingin membawa sang ayah pergi ke rumah sakit agar segera mendapatkan perawatan. Tetapi, sang ayah tidak ingin karena takut akan mempersulit anak dan istrinya. Sang ayah ingin di rawat di rumah sakit yang dekat dengan rumah. Ayu dan keluarganya tidak setuju karena tahu bahwa fasilitas kesehatan di sana tidak memadai, tetapi Ayahnya tetap ingin di rawat disana. Setelah menjalani perawatan, sang ayah telah meninggal dunia di rumah sakit. Ayu sangat terpukul, terutama Adik Ayu. Ayu hanya bisa menahan tangis ketika melihat jenazah sang ayah dan melihat kondisi Adiknya yang menangis tidak terima di tinggal sang ayah. Basic: True Story
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • HanHan's Diary [END]
  • Juan [REVISI]
  • hope [END]
  • WHO REALLY ME? (Slow Up)
  • psychologycal
  • DELAYED HOME (RUMAH TERTUNDA PT.2)
  • Menggapai Asa
  • The Other Me (on going)

【 Brothership 】 Yihan telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya di rumah sakit, berteman dengan selang oksigen dan suara monitor yang terus berbunyi. Kakaknya, Vanza, selalu berkata bahwa suatu hari Yihan akan pulang. Namun, Yihan tahu bahwa satu-satunya "pulang" baginya bukanlah rumah, melainkan tempat di mana ia bisa berlari bebas tanpa rasa sakit. Di balik senyumnya yang lembut, Yihan menyimpan impian yang tak bisa ia kejar, harapan yang harus ia genggam meski tahu akhirnya akan terlepas. Sementara Vanza terus menghiburnya dengan janji-janji manis, Yihan berpura-pura percaya, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk kakaknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines