Di tahun terakhir mereka di SMA, kehidupan Arisha Nasya Larasati dan Aryasatya Haidar Rasyid dipenuhi ambisi, doa, dan perjuangan. Nasya bercita-cita meraih beasiswa ke luar negeri untuk membanggakan orang tuanya, sementara Haidar bertekad melanjutkan jejak ayahnya menjadi seorang pengusaha muslim yang bermanfaat bagi umat.
Mereka sering terlibat dalam kegiatan sekolah, organisasi, lomba, hingga forum kajian islami. Dalam pertemuan itu, keduanya diam-diam menaruh rasa kagum satu sama lain. Bukan lewat genggaman tangan atau janji kosong, tapi lewat semangat belajar, sikap saling menghormati, dan doa yang tak pernah terucap.
Cerita ini mengisahkan tentang ambisi remaja muslim dalam meraih cita-cita, tantangan di usia muda, serta perasaan yang hadir tanpa melanggar batas syariat.
Gumi selalu dipaksa untuk mengalah pada adik, dan mengerti keadaan kakak.
Pada suatu malam, Gumi yang biasanya mau mengalah pada adik dengan mudah, tiba-tiba tidak mau berbagi sampai adiknya menangis dan membuat Mama marah. Tidak hanya Mama, Papa juga marah akan sikap Gumi.
Setelah mendapatkan hukuman dari Papa, Gumi jatuh terlelap karena sudah lelah menangis. Namun apa yang dia dapatkan ketika terbangun? Gumi bertransmigrasi ke tubuhnya satu tahun yang lalu.
Gumi bertekad untuk tidak mengemis perhatian dari kedua orang tuanya. Gumi akan berusaha menjadi anak yang mandiri dan memutuskan untuk menghindari kedua orang tuanya.