We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Rafreyr
  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 25, 2021
WpInfo
Non-Fiction
Tagsangst
Bagi Galuh, alasannya untuk tetap tinggal adalah tidak ada. Sebab itu ketika hari ulang tahunnya ia memilih untuk pergi ke apotek di Jalan Soedirman dan kembali setelah matahari meredup. Malam itu, adalah malam yang menjadi saksi. Bahwa pemilik nama Galuh yang sering singgah membeli kerak telor sebelum pulang ke huniannya usai kelas terakhir, merasa sendiri dan sepi. Dan sungguh, ia tidak menyesali pilihannya. all right reserved © by melihat laut
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ruang
  • Dari Niskala
  • Galang dan Naura ✔
  • The Nightmare Stories (Completed)
  • Luka Yang Kupeluk Diam-Diam
  • NAYLA  || Luka Berakhir Duka (End:Revisi📌)
  • AGAINST US
  • Welcome Home, Saga!
ruang

SETIAP manusia berhak mendapatkan ruang untuk bisa merasakan ketenangan walau hanya sesaat. Sekadar untuk menghela nafas sebelum menerima segala kenyataan yang akan menimpa dirinya. Mencoba menerima kepahitan dalam kehidupan yang sementara. Atau mungkin sekadar untuk menarik nafas panjang sebelum akhirnnya menerima bantingan keras hingga meremukkan tulang. Semesta tidak pernah berpihak pada Arkana Gala Dakari. Baginya, semua hanya bisa menggoreskan luka yang sangat dalam tanpa memikirkan perasaannya sedikitpun. Mereka seakan-akan tak memberikannya sebuah ruang untuk bernafas bahkan untuk sesaat. Tak pernah sedetikpun ia merasakan yang namanya ketenangan. Kesehariannya hanya berisi tentang kekhawatiran bahkan ketakutan. Arkana bahkan tidak tahu bagaimana rasa kebahagiaan yang sebenarnya. Apakah kebahagiaan itu manis seperti gula atau bahkan pahit seperti kopi. Dunia terlalu kejam untuk Arkana yang sendirian. Dalam keadaan terpuruk ia hanya bisa mencoba untuk berdiri dengan rasa sakit yang bertubi-tubi menimpa dirinya. Ia bahkan berharap mendapat jawaban dari semua doa-doa yang selalu ia panjatkan pada yang maha kuasa. Selain itu, ia juga membutuhkan ruang untuk sekadar bernafas dengan penuh ketenangan. Copyright © 2025, PapaLumoL

More details
WpActionLinkContent Guidelines