The Writer Lens

The Writer Lens

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Feb 9, 2022
Melihat banyak hal melalui "Lensa" yang tajam. Melalui proses panjang sebagai penulis. Tentunya yang terus belajar dan belajar. Fiksi tapi nyata itu sesuatu daya tarik, layaknya filem yang based on story. Ini cerita, kisah atau apapun perjalanan seorang penulis yang terus berjuang di alam tulisan, ingin selalu memberikan guratan paling sempurna. Bisakah seorang penulis mengurai karya sempurna sesuai obsesinya? Mampukah menjadi penulis sesuai alam imajinasinya yang harus perfect? Ikuti cerita tentang manusia gila yang hanya hidup di alam ide! Dia hidup hanya untuk tinta, kertas dan imajinasinya tentang kesempurnaan karya tulis. Hingga fase terburuk memakan kertas dan meminum tinta. Mungkinkah cerita ini kita temukan? Selamat mengalami penasaran dengan tokoh ini. Dengan karakter Sang Lensa. Penulis idealis yang hidup bersama ide-ide gila.
All Rights Reserved
#73
barang
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)
  • Ain't Your Daddy (COMPLETED)
  • Cinta Berbalut Puisi
  • ALLAND
  • Tingkat Tiga
  • The Last Birthday With You
  • "CINTA DI BALIK LENSA"
  • I Hope...
  • Hening Dalam Luka

"Iya sih, enggak penting juga. Enggak ada hubungan juga sama gue, cukup tahu aja," Mince mengambil tisu lalu mengusap air mata dan terkekeh. Ia hanyalah sebagian keryawan kecil di sini. "Udah jangan sedih lagi, nanti nyokap lo tambah sedih liat lo kayak gini," "Iya sih," "Makan yuk, udah jam 12 nih, gue laper," Dina menenangkan Mince. Mince menarik nafas menatap form form yang ada di atas meja, "Tapi kerjaan gue banyak," "Udahlah dikerjain nanti aja, lo harus makan dulu biar kuat," "Kuat ngapain?," "Kuat bercinta," timpal Dina. "Itu sih lo, bukan gue," Seketika Dina tertawa ia melirik Mince berdiri di sampingnya, "Bercinta itu asyik tau," "Ya asyiklah, kalau enggak asyik orang enggak mungkin bela-belain bulan madu sampai ke ujung dunia demi buat anak banyak-banyak," ucap Mince asal, melangkah keluar dari office. "Emang lo pernah ngerasain?," "Enggak," "Nanti kalau udah punya pacar dicoba aja," "Ogah," "Enak tau," "Ih apaan sih lo," "Gue pernah coba sama pacar gue, rasanya enak," "Ih ...," "Makanya cari cowok, biar bisa enak-enak," "Ih Dina !, lo apa-apaan sih cerita ginian," "Biar lo tau lah," "Asemmm," Tawa Dina kembali pecah, mereka berjalan menuju EDR. Ia senang melihat Mince kembali tertawa. Ia tahu bahwa wanita cantik ini begitu menyayangi ibunya lebih dari apapun. Sehingga rela menjual barang berharga miliknya demi pengobatan sang bunda. Ia sengaja berbicara seperti ini demi melihat tawa Mince.

More details
WpActionLinkContent Guidelines