Survive

Survive

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 6, 2021
Dengan keadaan negeri yang sudah kacau, ketimpangan ekonomi terjadi di mana-mana, kekacauan akibat pemberontakan juga terjadi dimana-mana, dengan berat hati beberapa anak terpaksa dilepas oleh pengurus panti asuhan, pengurus tempat dimana mereka selama ini ditampung, hidup dalam kesederhanaan. Mereka dilepas dalam rombongan kecil berisi tiga orang. Urva, Dio, dan Tazha sebagai satu rombongan, bersama-sama, berkelana mencari tempat menetap, makanan, apapun itu agar mereka bisa bertahan. Stay tuned for more! Selamat membaca! Do not copy my story! ❎ NB: Cerita ini akan terus dalam proses pengeditan di setiap babnya sampai genap ditamatkan. Tanggapan dan masukan dari pembaca akan sangat berharga sebagai bentuk support untuk penulis dalam memperbaiki tulisannya.
All Rights Reserved
#962
bertahan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • RIMBA MERUN
  • Shadows of the Main Story
  • ALZENA (THE GATE UNDER THE WATER)
  • ATHENA | Antagonist Princess
  • 𝐁𝐄𝐂𝐎𝐌𝐈𝐍𝐆 𝐀 𝐌𝐎𝐓𝐇𝐄𝐑 𝐎𝐟 𝐓𝐖𝐈𝐍𝐒 {Slow Update}
  • Ara bukan sekedar nama
  • Transmigrasi Figuran [END]
  • Pretty's On The Inside [TAMAT]
  • Veil: The Unseen Thief

Di sebuah dusun terpencil, tersembunyi di jantung hutan tropis Lampung, berdiri sebuah sekolah bernama Rimba Merun. Di sanalah Bu Mar, seorang guru tua dari kota menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari demi sekolah ini tak di tutup. Bersama dua guru lainnya, ia mengajar segelintir anak dusun yang miskin dan sederhana. Murid-muridnya mayoritas berasal dari keluarga tak mampu. Di dusun itu, kebanyakan orang tak berpendidikan, hidup dari buruh kelapa sawit, dan pertanian seadanya. Sekolah dianggap sia-sia. Namun, para guru tak menyerah begitu saja dalam mendobrak lingkaran setan. Lalu datanglah ancaman. Perusahaan konglomerat sawit mengklaim bahwa tanah sekolah dan hutan di sekitarnya, termasuk dusun Rimba Merun, masuk dalam wilayah konsesi mereka. Pabrik itu akan menggusur tanah mereka. Bu Mar dan guru lainnya tidak tinggal diam. Bersama murid dan sebagian warga yang mulai sadar dan berani, mereka membangun perlawanan. Namun perjuangan tidak mudah. Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat terpecah dan merasa tak mampu karena yang mereka hadapi adalah koorporasi raksasa, sedangkan mereka, hanya orang miskin yang punya tanah dengan status warisan turun temurun. Ini adalah kisah tentang sekolah kecil di tengah hutan, tentang harapan guru-guru yang tak berhenti percaya menyalakan api pendidikan, tentang anak-anak yang tak berhenti bermimpi, dan potret masyarakat pedalaman yang bertahan hidup ditengah gempuran ekoonomi. Jika sekolah dan dusun itu hilang, bukan hanya bangunannya yang lenyap, tetapi juga seluruh mimpi mereka.

More details
WpActionLinkContent Guidelines