Survive

Survive

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 6, 2021
WpInfo
Fiction
Action and Thriller
Dengan keadaan negeri yang sudah kacau, ketimpangan ekonomi terjadi di mana-mana, kekacauan akibat pemberontakan juga terjadi dimana-mana, dengan berat hati beberapa anak terpaksa dilepas oleh pengurus panti asuhan, pengurus tempat dimana mereka selama ini ditampung, hidup dalam kesederhanaan. Mereka dilepas dalam rombongan kecil berisi tiga orang. Urva, Dio, dan Tazha sebagai satu rombongan, bersama-sama, berkelana mencari tempat menetap, makanan, apapun itu agar mereka bisa bertahan. Stay tuned for more! Selamat membaca! Do not copy my story! ❎ NB: Cerita ini akan terus dalam proses pengeditan di setiap babnya sampai genap ditamatkan. Tanggapan dan masukan dari pembaca akan sangat berharga sebagai bentuk support untuk penulis dalam memperbaiki tulisannya.
All Rights Reserved
#201
journey
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • RIMBA MERUN
  • Rewrite My Heart 2 [TERSEDIA DI GRAMEDIA]
  • ATHENA | Antagonist Princess
  • The Abyssal Three
  • Veil: The Unseen Thief
  • Shadows of the Main Story
  • Pretty's On The Inside [TAMAT]
  • Ara bukan sekedar nama

Di Rimba Merun, kami belajar di sebuah sekolah kecil yang nyaris tak pantas disebut sekolah. Atapnya bocor. Dindingnya reyot. Buku-bukunya lebih tua daripada sebagian guru kami. Tetapi dari tempat itulah kami mengenal dunia-aku, Elang yang terlalu pintar, Badar yang hampir selalu mendapat nilai nol tetapi mampu membaca sungai seperti buku, Lee, Boih, Munisa, Seruni, dan anak-anak lain yang percaya bahwa kehidupan tak mungkin lebih rumit daripada ujian Matematika. Kami keliru. Hari-hari kami sebelumnya hanya dipenuhi perkara-perkara penting: menangkap ikan di Way Semah, melempar batu sampai dua puluh pantulan, berlari tanpa alas kaki, menghindari hukuman guru, dan mempertaruhkan harga diri dalam perlombaan-perlombaan yang hadiahnya bahkan tidak ada. Sampai suatu hari, orang-orang asing datang ke Rimba Merun. Mereka membawa peta tanah. Lalu menancapkan patok-patok ke tanah yang sejak lahir kami anggap milik kami. Awalnya kami tidak peduli. Orang dewasa selalu mempunyai urusan aneh yang tidak menarik bagi anak-anak. Namun patok-patok itu semakin banyak. Hutan mulai ditandai. Tanah mulai diukur. Orang-orang Dusun mulai berbisik. Dan suatu hari kami menyadari sesuatu. Garis patok itu menuju sekolah kami. Saat itulah permainan berakhir. Kami hanyalah anak-anak dusun. Kami tidak mempunyai uang, kekuasaan, ataupun orang penting yang bisa dimintai pertolongan. Yang kami punya hanyalah sebuah sekolah reyot, persahabatan, beberapa sepeda tua, keberanian yang kadang muncul pada saat yang salah-dan Elang, yang mulai mencurigai bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di Rimba Merun. Kami belum tahu bahwa usaha mempertahankan sekolah kecil itu kelak akan membawa kami berhadapan dengan orang-orang yang bahkan orang dewasa takut menyebut namanya. Dan kami sama sekali belum tahu bahwa suatu hari nanti, sebuah kata akan dituduhkan kepada kami. MAKAR. Padahal waktu itu, kami bahkan masih kesulitan memahami perkalian tujuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines