Mémoire - On

Mémoire - On

  • WpView
    LECTURAS 42
  • WpVote
    Votos 20
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mar, ago 3, 2021
WpInfo
Ficción
Romance
Aku di sini. Berdiri menatap sosok yang sedang duduk di kursi taman dengan kepalanya yang tertunduk. Berjalan dengan pelan dan tetap mempertahankan senyumku. Aku memanggilnya, dengan suara entah kenapa begitu senang padahal aku tau tujuan kami bertemu. "Kak?" Dia menoleh dengan ekspresi wajah yang terlihat sedih? Tetapi dia tersenyum lembut. "Hei, sini duduk dulu." Dia menepuk ruang di sebelahnya maksud mempersilahkan aku untuk duduk. "Kenapa kak? Ada yang mengganggu pikiran kakak?" Aku masih tersenyum dengan mata lurus menatapnya dan dia menatapku juga. "Sorry Din." Yang tadi nya menatapku kini mata nya kembali menatap tanah di mana sepatu PUMA nya berpijak. Aku mengikuti ke arah matanya, sepatu PUMA. Sepatu yang menjadi saksi bisu hubungan kami. Dari pertama bertemu dan saksi kami resmi berpacaran. "Sorry kenapa kak? Perasaan kakak ga ada salah deh." Top, Para produser dan sutradara tolong rekrut aku jadi pemeran utama film kalian. "Sorry dan kita putus ya? Kakak cape." Sesudah terucap nya kalimat itu, dia perlahan pergi. Pergi dan tidak mengucapkan kata kata pamit. Tidak ada. Sementara aku masih diam. Tidak nangis, tidak marah. Hanya diam. Kisah ku dan Kak Yogi selesai. Masih ongoing. Sampul: Pinterest
Todos los derechos reservados
#33
andini
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Bawa Aku Pulang (End)
  • COOL BOY VS BAD GIRL
  • My Beloved Brother |tamat|
  • Capricorn
  • A Sloppy Girl's Diary
  • MARVELLA QISYA [ End ]
  • Mari Saling Bicara
  • We Are One
  • IGNITES (END)

By a True Story Tentang dua anak muda yang menghabiskan waktunya bersama di masa putih abu-abu. -- Ponselku bergetar. Layarnya menyala terang. Nama Widya muncul di sana. "Za. Belum tidur?" Tanyanya dalam pesan itu. Aku melirik jam yang terdapat di sudut kanan atas layar ponsel, mendapati kini sudah jam dua pagi. "Belum, kenapa, Wid?" Aku bertanya balik. "Temenin gue teleponan dong! Gue enggak bisa tidur, nih." Sebenarnya, walau berada di kamar, aku sedang sibuk bekerja dengan komputerku. Namun, sejak mengenalnya delapan tahun lalu, aku selalu saja tidak bisa menolak permintaannya. "Oke." Balasku singkat sebelum akhirnya ponselku berbunyi, ada telepon masuk darinya. "Masih kerja?" Terdengar suaranya di sebrang sana. "Udah selesai, kok." Aku terpaksa berbohong. Padahal, aku mengesampingkan pekerjaanku untuknya. "Kenapa? Kok susah tidur? Emangnya mikirin apaan?" "Enggak tau, nih. Akhir-akhir ini, rasanya susah banget tidur cepet." "Lu kebanyakan tidur siang kali? "Bisa jadi, sih. Soalnya gue tidur bangunnya agak siang. Hahaha. Omong-omong, gue ganggu, enggak?" "Ganggu? Enggak, kok." "Emang lu lagi di mana, Za?" Tanyanya. "Di kulkas." "Hahaha." Ia tertawa. Aku selalu suka mendengar tawanya. "Serius ih! Lu lagi di mana?" "Di rumah, Wid. Kenapa, sih?" "Gapapa, nanya aja." Balasnya. "Oh iya, selain kerja, lu sibuk apa lagi deh akhir-akhir ini, Za?" Tanyanya padaku. Entah apa jawabanku atas pertanyaan itu. Yang jelas, aku bicara dengannya cukup lama. Mulai dari membicarakan soal kesibukan selain pekerjaan, sampai akhirnya membicarakan masa-masa SMA, dulu. Iya, Widya adalah temanku saat masih SMA. Aku mengenalnya sejak delapan tahun lalu. Aku ingat bagaimana aku mulai mengenalnya waktu itu.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido