DJUANDA
  • WpView
    Reads 107
  • WpVote
    Votes 50
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Oct 11, 2022
Ini adalah kisahku, sejak kecil hingga dewasa dituntut untuk menangis karena skenario Tuhan yang aku rasa tidak adil untukku. Dan semesta? Lihatlah, dia tidak memperdulikan aku. Tuhan memaksaku untuk tetap hidup, namun Tuhan dengan senang hati tak pernah memberikan kebahagiaan untukku. Bahkan semesta menciptakan garis bawah pada saat-saat menyakitkan dalam hidupku, seakan ingin membuat aku terpuruk lebih dalam lagi. Semua jahat. Tidak ada yang baik. Aku akui, hidupku sangat keras. Sekeras penyakitku. *** Start on : 1 September 2021 Finish on :
All Rights Reserved
#732
kematian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ANDAI AKU PUNYA KESEMPATAN LAGI (TAMAT)
  • Ramesta (RAHASIA SEMESTA) |REVISI
  • GOODBYE AND HELLO
  • MISELLA
  • (Sad)tember •END•
  • ARKFEL (END✅)
  • Senandung Angin (completed)
  • Gone(✔)🔚
  • Inside Me [END]
  • HURT [Sudah Terbit]

Ini tentang aku, seorang anak perempuan diselimuti rasa rindu, penyesalan, kekecewaan, dan sakit hati. Tentang aku yang memiliki jiwa rapuh. Mungkinkah ada obatnya? Jika, ya, aku berani membayar berapa pun untuk itu. Aku tidak bercanda. Aku serius. Aku butuh obat itu agar duniaku kembali sempurna walaupun tidak pernah sempurna semasa aku hidup di alam semesta yang penuh misteri ini. Namun, siapa sangka. Ada keajaiban datang dalam hidupku. Aku berhasil menemukan obat untuk luka di tubuhku ini. Akan tetapi, obat itu tidak bisa dibayar dengan uang. Obat itu hanya bisa dibayar dengan cara paling aneh di dunia. Aku harus rela mengorban hal yang paling aku sayangi dalam hidupku. Kenapa harus diberi pilihan? Jika pilihan itu tidak bisa membuat lukaku sepenuhnya sembuh! Lalu, apa maksudnya menunjukkan obat itu kepadaku. Aku tidak mengerti dengan semua permainan alam semesta kepadaku. Benar-benar tidak mengerti. Aku marah dan menyalahkan alam semesta atas semua rasa sakit dari lukaku ini. Namun, itu tidak ada gunanya. Kenapa? Semesta tidak pernah salah. Aku yang salah karena tidak pernah memandang dari berbagai sudut. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku tidak pernah memikirkan orang lain sekalipun aku menganggap diriku tidak seperti itu, tetapi aku tidak bisa menilai diriku sendiri sebab karakter seseorang hanya dapat dinilai oleh orang lain. Akibatnya dari semua itu, aku harus belajar meredahkan amarahku dengan cara mulai memahami tujuan dan rencana alam semesta kepadaku hingga aku sadar bahwa rasa luka di tubuhku ini adalah ulahku sendiri. Kenapa? Sebab selama aku hidup, aku tidak pernah bisa memanfaatkan diriku atas kematian orang yang paling aku cintai, yaitu Lamtiur, Papa. Sosok yang berhasil mengubah duniaku menjadi penuh warna.

More details
WpActionLinkContent Guidelines