Story cover for UNFOLD FEELING by PoojaKharisma
UNFOLD FEELING
  • WpView
    Membaca 148
  • WpVote
    Vote 65
  • WpPart
    Bab 5
  • WpView
    Membaca 148
  • WpVote
    Vote 65
  • WpPart
    Bab 5
Bersambung, Awal publikasi Agt 06, 2021
Dewasa
Thalia

Menatap bayangan yang terpantul dihadapannya. Seorang gadis berumur 20 tahun hidup sebatang kara tanpa ada sosok ayah dan ibu yang menemani, hanya ada paman dan juga bibinya yang juga sudah meninggalkan dirinya sendiri. Dirinya memiliki rambut gelombang panjang sepunggung berwarna coklat gelap. Gadis muda yang cantik dan sederhana, bertubuh mungil dengan kulit kuning langsat yang lembut dan bermata hijau pucat. Bayangan itu ikut menatap balik mata hijaunya, Thalia menghela nafas lalu mengikat rambutnya tinggi dan mulai bergegas mandi untuk memulai kelas pagi di kampusnya. 

Di mimpikan terus menerus oleh sosok laki-laki muda yang sangat tampan dan juga misterius, sosok itu membawa aura yang sangat gelap dan mengerikan, membuat Thalia selalu terbangun dengan nafas yang tersenggal-senggal dan kepala pening. 
Sosok laki-laki itu memiliki warna mata yang sangat indah, berwarna coklat keemasan layaknya madu yang diproduksi oleh lebah terbaik. Sosok itu berlumuran darah di seluruh wajahnya, terdapat luka yang cukup besar di dada kanannya , namun sosok itu tetap berdiri tegak dengan raut wajahnya yang tampak tenang dan senyum manis yang menyertainya
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Daftar untuk menambahkan UNFOLD FEELING ke perpustakaan kamu dan menerima pembaruan
atau
Panduan Muatan
anda mungkin juga menyukai
Xagala oleh FanisaSibarani
14 bab Lengkap
Sosok yang tampaknya lahir ke dunia hanya untuk menghancurkan apa pun yang ia sentuh. Xakia tidak pernah bisa melupakan bagaimana tatapan mata itu berubah menjadi sesuatu yang lebih mengerikan pada malam jembatan. Bagaimana ia hampir kehilangan segalanya. Dan bagaimana semuanya berakhir dengan satu pukulan keras satu hantaman yang membungkam monster itu. Gala, pria yang muncul entah dari mana, adalah sosok yang penuh misteri. Setelah malam itu, Xakia mulai melihatnya lebih sering. Selalu di tempat-tempat yang tidak seharusnya ia ada. Selalu dalam situasi yang tidak bisa dijelaskan. Seolah-olah ia adalah bayangan yang mengikuti Xakia, seseorang yang tahu lebih banyak dari yang seharusnya. Sekarang, di bawah hujan yang mengguyur tanpa henti, mereka kembali bertemu. Xakia menatap Gala dengan mata yang penuh pertanyaan. "Kenapa kau selalu muncul? Apa yang kau inginkan dariku?" Gala menghela napas, menyapu rambut basahnya ke belakang. "Aku tidak menginginkan apa pun." Suaranya tenang, tapi ada sesuatu di baliknya sesuatu yang tidak Xakia mengerti. "Lalu kenapa kau memukulnya?" Xakia menatap tubuh yang tak bergerak di tanah, darahnya bercampur air hujan, mengalir menuju lubang drainase di pinggir jalan. Gala tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap tubuh itu sejenak, lalu berbalik menghadap Xakia. "Karena jika aku tidak melakukannya, kau tidak akan pernah bisa lari." Ketegangan di antara mereka begitu pekat, seolah udara sendiri menahan napas. Lalu, sirene polisi mulai terdengar di kejauhan. Lampu merah dan biru berpendar di balik rintik hujan. Gala menatap Xakia dalam-dalam. "Kita harus pergi. Sekarang." Dan tanpa menunggu jawaban, ia menarik tangan Xakia, membawa gadis itu pergi dari malam yang akan mengubah hidup mereka selamanya.
anda mungkin juga menyukai
Slide 1 of 10
Petals of the Heart ✔️ cover
Gula - Gula cover
Obsessed With The Twins cover
DELUSI cover
Tuan Kadal di Luar Jendela ✓ cover
Cinta tak terduga dibalik tabligh cover
Xagala cover
BUNGA KEMBALI cover
Is LOVE cover
Assassin Follower cover

Petals of the Heart ✔️

33 bab Lengkap

Masuk ke universitas seni bergengsi di Korea Selatan bukan hal mudah bagi Pharita, gadis Thailand yang punya mimpi besar di dunia seni rupa. Ia pikir hidupnya akan penuh warna lewat lukisan, galeri, dan kompetisi. Tapi semua berubah ketika ia bertemu Kim Jun-Kyu senior fotografi yang ceria, suka bercanda, dan terlalu mudah membuat jantung Pharita berdebar. Hubungan mereka dimulai dari tumpukan sketsa yang jatuh di hari pertama, dilanjutkan dengan candaan ringan dan kebersamaan yang makin sulit diabaikan. Pharita belajar bahwa cinta, seperti seni, tidak selalu harus dijelaskan. Kadang cukup dirasakan. Dan seperti kelopak bunga yang jatuh perlahan, rasa itu datang... tanpa aba-aba.