Surat-surat Kecil

Surat-surat Kecil

  • WpView
    Reads 1
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Aug 24, 2021
Penulis pernah mengungkapkan cintanya lewat surat kecil yg di tulis dengan penuh cinta. Hingga akibatnya kebahagiaan tercipta. Orang yang ia tuju kini menjadi istri tercinta. Wanita belahan jiwa yang amat cantik mempesona. Mulai saat itu, ia percaya diksi yang di suratkan memiliki kekuatan yang spesial dalam penyampaian pesan. Buku ini hanya sebuah kumpulan-kumpulan surat kecil yang ia satukan. Mulai saat itu pula, surat kecil yang ia tulis tidak hanya pada istri tercinta. Namun kepada orang-orang yang menurutnya perlu disampaikan pesan khusus dan spesial. Kepada anak,orang tua,saudara bahkan kepada dirinya sendiri. Semoga kumpulan surat kecil ini juga menjadi inspirasi bagi siapapun untuk mengekspresikan hati dan cintanya. Pun, menjadi kenangan pribadi untuk penulis . Selamat membaca...
All Rights Reserved
#224
surat
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • Untitled Romance
  • PROSA
  • My Cold Husband [COMPLETED]
  • DANGEROUS GABRIEL | Perjodohan (Complete)
  • Merengkuh CintaNya Dipersimpangan
  • Serangga Asparagus
  • Silence Of Tears (TERBIT)

❝Keputusan berat yang harus aku ambil, demi menjagaku juga menjagamu adalah menjauhimu. Bukan karena benci, tapi karena aku mencintaimu. Semata agar kau dan aku tidak terjerumus dalam syahwat yang hina.❞ Begitulah kutipan tulisan yang aku tulis dan kutujukan untuk seseorang, cinta pertamaku. Assalamu'alaikum ... aku Rania Andinadya. Jika kamu bertanya kisah ini mengisahkan tentang apa ... ini tentang perjalananku dalam menemukan hingga harus belajar mengikhlaskan cinta pertamaku. Aku, begitu mencintai dia. Namun anehnya, aku sama sekali tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padanya. Sampai suatu masa, ketika cintaku mulai terbalaskan, hidayah-Nya perlahan-lahan mengetuk pintu hatiku. Aku pun menyadari, aku dan dia tidak seharusnya sering berinteraksi, demi menghindari syahwat yang hina. Meski telah berhijrah, cintaku kepadanya masih sama. Dalam diam, aku tetap mencintai dan mendo'akan kebaikan untuknya. Tapi, siapa sangka takdir malah berkata lain. Setelah menjauhinya sebab cinta, ia telah menemukan pujaan hatinya. Lantas aku berusaha mengikhlaskan, meskipun ikhlas adalah suatu hal yang teramat pelik. Dan satu pertanyaan terus mengusik pikiranku ... mampukah aku mengikhlaskannya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines