Kematian yang diharapkan

Kematian yang diharapkan

  • WpView
    Reads 422
  • WpVote
    Votes 181
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Aug 12, 2021
Pernah ingin hilang, tetapi seakan ada sesuatu yang menghalangi? Pernah ingin pergi, tetapi seakan ada sesuatu yang menahannya? Pernah ingin bertahan hidup di tengah-tengah jahatnya dunia,tetapi rasa sakit membunuhmu pelan-pelan? Jika kamu belum pernah merasakannya dan ingin mencobanya, kemarilah Akan aku ceritakan bagaimana seorang diri ku yang nampak kokoh di luar, namun rapuh yang hanya menunggu waktunya kapan dia akan hancur. ...... Cerita ini selesai karena pada dasarnya cerita ini seharusnya tak boleh dimulai sebab semakin lama dicari semakin jelas bahwa tidak akan pernah menemukan kata " happy ending".
All Rights Reserved
#338
hukum
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Grey Of SAKARUNA
  • 𝐀𝐁𝐎𝐔𝐓 𝐊𝐄𝐘𝐋𝐀 [𝐄𝐍𝐃]
  • Aluka (Proses Penerbitan)
  • Senja Tanpa Senyum [END]
  • FADING IN THE SILENCE
  • LUKA✔
  • Menyerah atau Bertahan?
  • AGAVAN (H I A T U S)
  • Belenggu Di Ujung Lara (terbit)
  • HIDDEN I (The End)

Entah siapa yang bisa benar-benar menebak apa yang ada di pikirannya? Kadang, aku merasa kami sedekat nadi-tak terpisahkan oleh ruang atau waktu. Namun, di lain waktu, rasanya seperti tak pernah ada apa-apa di antara kami. Dia melenggang ke sana kemari, seolah aku tak lebih dari bayang-bayang yang tak terlihat. Tapi anehnya, di saat tertentu, dia menggeliat di sisiku, seperti tak akan bisa bertahan hidup tanpa kehadiranku. Hingga kini, aku masih tak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya. Keluh kesahnya, tawa kecilnya, dan tingkah manjanya yang dulu terasa akrab kini hilang begitu saja, bagai debu yang diterbangkan angin. Dua belas tahun kebersamaan kami, mengapa rasanya bisa terhapus hanya dalam tiga tahun? Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa segalanya memang memiliki waktunya masing-masing. Bahwa perubahan ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. "Ini bukan masalah besar," gumamku berkali-kali. Namun, hati kecilku tak pernah benar-benar berhenti bertanya, mengapa? Hal yang paling membuatku kesal adalah kebiasaannya yang kini berubah menjadi teka-teki. Dia datang kepadaku, tapi hanya ketika dia butuh. Saat lapar menghampirinya, saat kesedihan melingkupinya, atau ketika kebosanan menjeratnya. Dia akan muncul tiba-tiba, menghancurkan keteraturanku, mengacak-acak ketenanganku, lalu pergi tanpa sepatah kata pun. Maksudnya apa? Aku benci dibuat bingung seperti ini. Aku benci bagaimana dia membuatku merasa diperlukan, hanya untuk kemudian membuatku merasa tak berarti. Namun di balik semua rasa kesalku, aku tak bisa mengingkari satu hal: aku tetap menunggunya. Dia adalah Saka, sebuah misteri yang tak pernah bisa kuselesaikan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines