TITIK ARAH (ON GOING)

TITIK ARAH (ON GOING)

  • WpView
    Reads 70
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadComplete Thu, Oct 21, 2021
Banyak yang bilang bahwa anak pertama itu harus kuat apalagi perempuan. Dan akupun membenarkan perkataan tersebut karena memang benar aku merasakannya. Dituntut untuk menjadi tulang punggung karena membantu sang ayah, dan juga harus menjadi kakak kebanggan untuk adikku. Ekspektasi orang tua terhadap anak pertama sangatlah tinggi menurut ku. Karena menjadi harapan pertama dan juga contoh bagi anak selanjutnya. Awalnya sangat berat untuk dijalani ketika melihat orang lain seusia ku yang hahahihi menikmati masa remajanya tanpa harus bekerja keras. di saat aku ingin seperti mereka tapi aku terlebih dulu dipukul mundur oleh keadaan yang memaksaku lebih berfokus untuk bekerja. Besar di keluarga yang sederhana membuat aku menjadi kuat dan tangguh. karena bagiku melihat senyuman orang tua menjadi kesenangan tersendiri untuk menjalani hidup. Aku... seseorang yang memiliki tekad tinggi untuk membahagiakan kedua orang tua. Bahkan rintangan, tangisan, rintihan dan badai pun aku lalui demi terciptanya sebuah pelangi. Gimana penasaran akhirnya seperti apa? Kita saksikan sama sama 😗✨ Yu follow dulu sebelum membaca biar ga ketinggalan update selanjutnya!🌻 Cerita ini murni hasil pemikiran saya! Maaf apabila ada kesamaan nama tokoh atau alur karena itu tanpa unsur kesengajaan DONT COPY MY STORY !
All Rights Reserved
#149
fiksiilmiah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • NEVER CHANGE ME & YOU
  • Eliinaa
  • JAM 3 SORE
  • Bertumpu
  • Still The Same
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • My There Alone
  • REGATHAN [END]
  • Setulus Kasihmu (End)

"Momen seperti itu sudah jadi mimpi buatku," Ayahku telah tiada, dan kenangan itu tak akan kembali. Namun, di tengah rasa sakit itu, Jea tetap bersyukur. Masih ada ibu yang selalu ada untuk Jea. Beliau seperti punya dua peran dalam hidupku-seorang ibu dan seorang ayah sekaligus. Ibu selalu mewarnai kehidupan anaknya, walaupun terkadang kami suka bertengkar sambil bercanda dalam hal-hal kecil. Tapi Jenna hanya bisa berharap, semoga ibu panjang umur dan sehat selalu. Melihat ibu seperti itu membuat Jea sadar, hidup ini mungkin tidak akan selalu adil, tapi ia punya alasan untuk tetap kuat. Setiap tawa yang ibu bagikan, setiap lelah yang dia sembunyikan, semuanya mengajarkan untuk terus berjalan, meski kadang langkahku terasa berat. Jea sadar, momen seperti di kantin tadi mungkin bukan untuknya, tapi Jea tak akan membiarkan dirinya terus terjebak dalam rasa kehilangan. Karena ada ibu yang selalu berjuang untuk kebahagiaan Jea. "Dan jika ayah dulu adalah pelindung di masa kecilku, sekarang ibu adalah pelita yang menerangi masa depanku" Batin Jea. "Jujur, aku iri sama mereka". • • • • • • Aku hanya anak kecil yang ditinggal oleh Ayah pergi jauh dan tak akan kembali ke dunia ini. -Jeanna Azarina- Ayah, anakmu sudah dewasa sekarang apakah tidak rindu? Apakah Ayah masih ingat wajah anakmu yang mirip sekali dengan Ayah. -Jeanna Azarina- Ayah, aku sangat merindukanmu sangat ingin memelukmu dan banyak hal yang ingin aku bicarakan kepadamu tapi kapan? -Jeanna Azarina- Walaupun aku kehilangan figur seorang Ayah tapi, kalau bukan ini takdirnya mungkin aku tidak bisa kuat dan bertahan sampai detik ini. -Jeanna Azarina- Aku ingin sekali merasakan memanggil Ayah berkali-kali didalam rumah kemudian, ayah menghampiri dan memelukku erat. -Jeanna Azarina- #Kisah nyata penulis #DILARANG KERAS UNTUK MENJIPLAK

More details
WpActionLinkContent Guidelines