Mereka tidak tau rasanya dicintai dengan tulus, berkumpul dengan anggota keluarga yang lengkap, dan bercerita betapa sulitnya tugas sekolah pada orang tua.
Mereka hanya ingin mengisi kekosongan dengan bersenang-senang dan melanggar aturan. Tapi ruang hampa itu tetap tidak terisi sedikitpun.
Mereka dipertemukan, lalu saling memberi kasih sayang juga cinta yang tidak didapatkan sebelumnya. Sedikit demi sedikit ruang hampa itu terisi dengan perasaan hangat dan juga saling membutuhkan satu sama lain.
Lauren dan Sam bukan kisah yang keras-keras jatuh cinta-mereka tumbuh pelan, dari tatapan singkat, senyum kecil, hingga diam yang saling mengerti.
Di balik bangku sekolah yang sederhana, mereka menulis cerita.
Tentang tawa yang tak dibuat-buat. Tentang genggaman yang nggak selalu erat, tapi hangat.
Dan tentang janji-janji kecil yang mungkin... cuma untuk dikenang.
Tapi waktu nggak pernah berhenti berjalan, dan orang-orang nggak selalu tinggal.
Kini, mereka duduk di ujung dunia yang berbeda-masih saling ada, tapi tak lagi saling punya.
Lalu, jika satu surat bisa membuka kembali pintu yang tertutup rapi,
masih pantaskah kisah mereka kembali dibaca?
------------