Cinta yang Menemukan Jalan

Cinta yang Menemukan Jalan

  • WpView
    Reads 994
  • WpVote
    Votes 83
  • WpPart
    Parts 49
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 21, 2024
WpInfo
Fiction
Social Themes
Zoya harus menelan pil pahit bahwa kehilangan abinya selama 26 tahun ini membuat uminya semakin depresi dan tidak dapat ditolong lagi. Dia harus dihadapkan pada pilihan untuk menemukan abinya di Arab Saudi seorang diri tanpa bantuan siapa pun. Kenekatan Zoya membawanya pada sebuah keluarga yang banyak membantu pengungkapan motif di balik hilangnya Abi, hingga rentetan kejadian membuat harapannya pupus untuk membawa abinya pulang. "Bagaimana Umi melanjutkan hidupnya setelah ini? Bagaimana kesehatan Umi? Bagaimana harapannya? Bagaimana janjiku?" Kalimat-kalimat ini kerap membuat bising kepala Zoya hingga sukses mengukirkan rasa luka yang sebelumnya sangat bahagia dalam batinnya. Dia hanya berharap bahwa apa pun yang terjadi, Tuhan akan memberikan jalan pada cinta yang sesungguhnya. "Kau bahkan tidak mengajariku berjalan dengan tanganmu!" - Zoya Yasmina
All Rights Reserved
#62
umi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • Mom, I'm Sorry
  •  HAZELA
  • Finding a Soulmate
  • Maybe Tomorrow : Penyesalan (On Going)
  • Langit Kelabu Milik Ara
  • Different (END)
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Antara Dendam dan Cinta
  • KEKASIH TAK SAMPAI ✓

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines