ALANA
  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Aug 14, 2021
Alana berdiri dengan sempoyongan, dia membuka jaketnya dan membuangnya asal. Alana mulai mengarahkan ujung gunting tadi ke area perutnya, Dia menangis. "Maaf semuanya, tapi aku lelah! Aku hanya ingin bahagia dan berkumpul kembali bersama Ayah. Aku harap kalian juga bahagia" Hening sesaat sebelum akhirnya Alana meringis saat menancapkan gunting itu ke perutnya dan merasakan perih dan dingin. Dia mencabut gunting itu dan menjatuhkannya begitu saja ke lantai. Tubuhnya ambruk terduduk dengan kedua tangan menopang tubuhnya. Ia melihat tangannya yang berlumuran darah, kemudian Alana kembali melihat gunting itu dan mengambilnya. Alana memuntahkan darah di saat tusukan yang ke 3 dia lakukan. Setelahnya dia mencabut dan membuang jauh jauh gunting itu. Alana tidak mampu lagi menopang tubuhnya dan terbaring lemah tak berdaya dengan keadaan mengenaskan dan darah yang mengenang di lantai. Dia menatap langit malam dan tersenyum lebar seraya terkekeh pelan. Tangan kanannya terulur ke atas seperti tengah mencoba menggapai langit. "Ayah, maafkan aku tidak menepati janji waktu itu. Hukum aku saat kita bertemu nanti"
All Rights Reserved
#825
mata
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KARAFERNELIA
  • Aluka (Proses Penerbitan)
  • ARUMI ALIVIA RAZETA
  • Please, Love Me (END)
  • BROKEN HEART [END]
  • Why Him? [COMPLETED✓]
  • ALVANSA [Completed]
  • Narasi patah hati
  • Maaf (Sequel Off T.A.A.O) | SELESAI REVISI

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines