Alone
  • WpView
    Reads 48
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 15, 2021
"Saya tidak mengharapkan apapun dari Anda! Mau harta ataupun jabatan terserah! Silahkan ambil!! Hanya satu yang saya minta, tolong... tolong jangan siksa Bunda-hiks.. hikss.. k-karena beliau, Saya masih ada sini!!" Dia terisak, degub jantungnya berpacu cepat. Gadis itu-perempuan berjilbab itu mengambil alih pecutan yang ada di tangan ayahnya dengan gemetar. "T-Tolong Y-yah, jangan seperti ini-hiks.. J-jika Ayah ingin S-saya dan Bunda pergi dari sini-hiks, Sa-saya akan lakukan, Yah" ucap gadis itu berusaha tegar dengan segala hal permasalahan keluarganya. Perlahan-lahan tangan gadis itu mengusap tangan sang ayah dengan penuh kehati-hatian, gadis- yang tidak kita ketahui namanya itu langsung memeluk badan ayahnya yang bergetar hebat. Ayah dan anak itu menangis, rasa sesak didada ini belum juga hilang setelah sang ayah tadi bergumam "Ma-Maaf nak, Maafkan Ayah" dengan suara yang begitu parau. Setelah pelukan kehangatan itu, dia-gadis itu melirik bundanya yang terkapar tidak berdaya, berjalan tertatih menghampiri sang bunda, berjongkok disebelahnya dan berusaha sekuat tenaga membawa bundanya kepunggung untuk digendong. Terseok-seok gadis itu membawa bundanya kedepan gerbang, meminta tolong pada satpam komplek untuk membawa bundanya kerumah sakit. "La tahzan, Na, la tahzan innallaha ma'ana" gumam gadis itu berusaha menyemangati dirinya sendiri setelah pak satpam memberhentikan salah satu taksi. Ini perdana saya bikin cerita, eh enggak ning yang waktu itu sih diunpublis jadi gak dilanjutin ceritanya.. Sekarang karya baru deh, ehe Cukup sekian terima kasih :) Nantikan kelanjutan ceritanya yah kawan😗 Insya allah seru hihi Jangan lupa vote, comment and share!!
All Rights Reserved
#32
pantiasuhan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pelangi yang Telah Lama Hilang
  • ELGITA  (TERBIT)
  • Aku Padamu Ya Ukhti (Selesai)
  • DEANDRA (Dangez Gang)
  • Lembar Terakhir Surat Untuk Dika
  • Alinka's Story! [Completo]
  • Yang Dulu Melukai,Kini Menyayangi [END]
  • syanin
  • AIRA [On Going]
  • ALBARISUS ✔

"siapapun tante, adik ayah, adik bunda, tetangga atau simpanan ayah, aku anggap tante cuma benalu tau" ucapku memberi penekanan pada kata simpanan. Wajah Tante Dista terlihat terkejut. "heiii.."ia membentakku "ga pernah di didik ya sama bunda mu, ternyata bundamu itu ga becus jadi seorang ibu ya pantas saja ayahmu tergila gila pada ku" "kamu ga usah senang dulu, suatu saat nanti aku yang akan mengusirmu dengan tanganku sendiri" sambungnya Aku menyeringai "barusan kau buat pengakuan kan" tanyaku menatapnya jijik. Tante Dista terlihat kikuk. "hahaa..... Jadi kau memang simpanan ayah. Dan masih sanggup tinggal dirumah kami. Ga tahu malu"ucapku dengan penekanan di kata simpanan dan malu. "kauuu-"ucapnya tertahan ketika bunda mulai mendekati kami. Aku mendekat ke arah tante Dista tetap mempertahankan senyum palsuku. Menginjak kakinya dengan keras, dan pura pura mencium pipinya dengan mesra. Dia menjerit tertahan dan aku senang. Tanganku yang bebas menarik rambutnya yang terjuntai panjang. Dia meringis dan mencengkram tanganku kuat kuat. Bunda tak pernah tau itu. Bunda hanya tersenyum dan menganggap semuanya akan baik baik saja. Padahal aku dan tante Dista sedang menyiapkan strategi perang kami masing masing.

More details
WpActionLinkContent Guidelines