Dalam sekejap takdir semesta seperti sedang mencemoohnya. Merangkulnya dengan fakta mengejutkan bak hantaman meteor tak kasat mata hingga sesakkan dada. Hantaman yang mampu mendorongnya paksa pada kubangan rasa tanpa daya. Menenggelamkannya bersama luka yang terikat paten dengan raga ringkihnya.
Memang benar, lamanya hubungan tidak menjadi jaminan untuk sebuah kesetiaan, terus beranggapan bahwa diri dapat menjadi alasan untuk berubahnya seseorang lalu mengira pemberian kesempatan adalah pilihan paling bijak dari segala hukuman. Nyatanya, segala bentuk ekspektasi yang diyakini merupakan rasa sakit yang paling hakiki sebagai kompensasi dari rasa terlalu percaya diri.
Sialnya. Dengan diberi luka tanpa jeda hingga terjebak dalam kubangan hitam tanpa dasar penyangga telah berhasil membuatnya mengamini bahwa diri paling tidak layak dicintai dan menganggap bahwa lemahnya adalah kebodohan paling tidak manusiawi.
Dan sepertinya, duka yang sudah dia rasa masih belum cukup untuk semesta membiarkannya terus beri tawa pada dunianya. Usahanya masih belum sekuat bias fatamorgana. Pun, harapnya masih kalah besar dengan kendali semesta.
Hingga pada akhirnya, dia menyerah pada apapun yang mengikutinya. Dia memilih menjadi tokoh yang tidak tahu diri meski rasanya sudah berhasil teralih pada dirinya yang datang bagai sihir setetes air di Gurun Pasir.
❗️[WAJIB FOLLOW SEBELUM MEMBACA]❗️
"Jangan bohong, Ibu. Aku tau Ibu berharap agar aku bisa meraih semua kejuaraan sekolah sebagai tanda terima kasih karena sudah mengasuh aku selama ini." Ujar Arunika kepada Ibu angkatnya yang kini menatapnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
"Aru ..."
"Aku tau Ibu ga setulus itu untuk merawat aku, Ibu mengharapkan agar aku meraih semua kejuaraan itu supaya Ibu bangga dengan aku dan itulah yang Ibu anggap sebagai tanda terima kasihku." Terangnya.
Menjadi anak angkat dari seorang Ilmuwan yang sudah dikenal oleh penjuru dunia memanglah menyenangkan karena otomatis akan dikenal oleh penjuru dunia juga. Namun, pernahkah kalian berpikir apa sisi gelap dari seseorang yang bagus reputasinya seperti Ilmuwan Hanasta?
Arunika Hasta Takarala dengan nasib malangnya malah merasakan hal itu. Hal yang terlihat menyenangkan bagi orang-orang yang tak tahu akan sisi gelap Ibu angkatnya. Ya, Ilmuwan Hanasta hanya mengasuh dirinya agar tidak lagi mendengar celetukan-celetukan yang memanaskan telinganya. Ilmuwan Hanasta sudah menyembunyikan hal itu, namun lambat laun ... Arunika semakin tahu apa yang Ibunya sembunyikan.
Arunika yang sudah lelah mengurus diri demi Ibunya malah ditimpa dengan segala masalah yang terjadi di sekolah. Entah itu masalah di masa lalu, masalah yang tak teringat lagi, masalah laki-laki, masalah nilai ... semua itu menimpa Arunika secara bersamaan, membuat dirinya mau tak mau harus menyelesaikan semua itu secara sekaligus.
⚠️MENGANDUNG KEKERASAN⚠️
⚠️WAJIB 13+ UNTUK MEMBACA⚠️