That Day will Come

That Day will Come

  • WpView
    reads 427
  • WpVote
    Stemmen 2
  • WpPart
    Delen 26
WpMetadataReadLopende
WpMetadataNoticeLaatst gepubliceerd don, jan. 20, 2022
WpInfo
Fictie
Romantiek
Gerbang masuk dunia baru telah dilalui menjalani babak akhir kehidupan. Fase akhir kehidupan dunia baru ini tumbuh dari kehancuran global yang menyurutkan peradaban. Surutnya peradaban serasa memutar waktu kembali ke masa silam menyajikan nuansa kehidupan yang terbebas dari ikatan teknologi. Waktu tak akan pernah berputar kembali, namun peristiwa besar di luar jangkauan pikiran manusia telah membuat seakan-akan waktu memutar kembali ke masa silam. Dunia kembali menghijau mempersembahkan kesegaran dan kelegaan bagi penghuninya. Hanya tinggal menungu waktu, saat hari itu akan tiba diawali lepasnya sebuah komet raksasa dari pusaran arus yang bergerak mengarah ke bumi. Bumi tak mampu menghindar dari sasaran lesatan komet yang meluncur dengan kecepatan luar biasa sampai akhirnya kedua benda langit itu beradu dan menimbulkan ledakan maha dahsyat hingga memusnahkan setengah makhluk bumi. Ledakan maha dahsyat itu menjadikan dunia gelap gulita dan mengubah wajah teknologi dari masa keemasan menjadi masa kepunahan. Kepunahan teknologi yang tidak bisa terbangkitkan membuat kehidupan dunia berubah drastis seakan-akan memasuki dunia baru terbebas dari pernak-pernik peradaban sebelumnya. Dari sinilah kisah perjalanan kehidupan dunia baru dimulai.....
Alle rechten voorbehouden
Word lid van de grootste verhalengemeenschapOntvang persoonlijke verhaal aanbevelingen, sla je favorieten op in je bibliotheek en geef commentaar en stem om je gemeenschap te laten groeien.
Illustration

Je bent misschien ook geïnteresseerd in

  • Syal Merah
  •  Ilusi Kebebasan
  • [BL] Tyranny of Darkness (DiFang)✅
  • Antheric
  • [Season¹]•Mìngyùn Zhī Xiàn/命運之線/Thread of Fate [BL]✅
  • Eleutheromania
  • Tentang Ursulanda | dan bagaimana kami memenangkannya [ TAMAT ] [Revisi]
  • Ultimate Note: You Are Worthy?
  • Dungeon : Beginning

Lihatlah manusia.... makhluk berakal, katanya, tapi berakal hanya untuk merancang kehancuran dengan cara yang lebih efisien dari iblis manapun. Mereka lahir dengan tangan kosong, namun tumbuh dengan jemari yang tak pernah cukup menggenggam. Satu takhta tak cukup, satu negeri terlalu sempit, satu nyawa tak sebanding dengan harga ambisi. Mereka mencipta Tuhan dari kaca dan bayangan, lalu menjadikannya alasan untuk menyalakan api di rumah sesamanya. Lalu, ketika tubuh hangus terbakar, mereka berkata: "Ini takdir, ini suci." Padahal semua hanya siasat licik, untuk menjarah lebih banyak, menguasai lebih dalam. Di medan perang, tidak ada musuh sejati, hanya cermin-cermin retak yang saling menuduh bayangan masing-masing sebagai setan. Manusia menanam senyum di bibir diplomasi, sementara tangannya menandatangani pengiriman peluru ke tempat di mana anak-anak belajar menyebut "ayah". Dan ketika tanah itu retak oleh ledakan, dan langit pun tak sudi menurunkan hujan, mereka berkumpul di ruang rapat ber-AC, membahas damai yang bisa dijual dengan harga saham. Oh, manusia bukan makhluk sosial- mereka makhluk serigala yang diajari mengenakan jas. Mereka berdiri di atas kuburan sambil berkata: "Semua demi kemajuan." Apa makna "maju", jika harus melangkahi mayat? Apa artinya "kebebasan", jika harus dipaksa dengan moncong senjata? Mereka mencipta kata-kata indah- "perjuangan", "nasionalisme", "pengorbanan", tapi semuanya hanya selimut untuk menutupi nafsu kekuasaan yang menjijikkan. Sejatinya, manusia mencintai kehancuran- sebab di puing-puing itu, mereka bisa membangun kerajaan atas nama harapan, padahal fondasinya dari daging dan darah. Tak ada yang suci dalam perang. Tak ada yang heroik dalam membunuh. Yang ada hanyalah manusia- yang selalu lapar, selalu haus, selalu ingin menjadi Tuhan tanpa pernah bisa menjadi manusia,.

Meer details
WpActionLinkInhoudsrichtlijnen