TRIPLET'S DIARY

TRIPLET'S DIARY

  • WpView
    Reads 3,915
  • WpVote
    Votes 156
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jan 3, 2022
[Sequel of Untouchable Man] Attention: Dapat dibaca terpisah dengan Untouchable Man. Ara dikelilingi oleh laki-laki menyebalkan. Selain Ayah yang selalu mengacaukan selera makannya, ada Rajendra yang suka cari gara-gara. Pun, tingkah Rama yang polos sering kali membuat Ara ketiban sial. Diary biasa disimpan di tempat tersembunyi oleh pemiliknya. Namun, apa yang membuat Ara membagikan kisahnya pada dunia, termasuk kalian? Temukan jawabannya dalam Triplet's Diary. Ara menyambut kedatangan kalian semua. Selamat membaca^^
All Rights Reserved
#109
gangster
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Karakter Sampingan (Haechan)
  •  ANATHA
  • SATU RAGA SERIBU LUKA |
  • MY GUARDIAN BROTHER(COMPLETED)
  • Perihal Sandwich(End)
  • Kue Manis & Rasa Pahit | Hyuckna
  • Bangkitnya Sang Pusaka (Completed)
  • Kalysian

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines