Hiraeth | Lee Jeno

Hiraeth | Lee Jeno

  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Oct 26, 2021
"gue nggak percaya manusia. Mereka semua janji bakal terus ada buat gue. Tapi, pada akhirnya mereka juga yang ninggalin gue sendirian." Raya menatap jalanan basah disekitarnya dengan tatapan lara. "Kalau gitu jangan percaya sama gue," lirih Semesta. Aksara semesta, nama yang tidak pernah terpikirkan akan menjadi pengaruh besar dalam kehidupan seorang Araya Jingga. Raya pikir, hidup sendiri dan mengasingkan diri dari orang sekitar adalah pilihan yang tepat. Dia merasa tidak membutuhkan siapapun lagi. Raya sudah terbiasa merasa sendiri ditengah keramaian, namun datangnya sosok Semesta mengacaukan semuanya. Sosoknya menjadikan Raya sangat membutuhkan seorang manusia. Ya, Aksara Semesta, dan Raya sangat membenci itu. Dari jutaan manusia, kenapa harus Semesta.
All Rights Reserved
#319
dream
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KARAFERNELIA
  • Trust || Lee Taeyong [END]
  • NARARYA || END✔️
  • [ √  ] AMERTA ¦ Ft Huang Renjun
  • Kemana Arah Pulang?
  • Don't hate me || Jeno Jaemin [END]
  • SEMESTA ✔
  • Senja Terakhir Semesta✔️
  • SEMESTA  (TERBIT)
  • Jenderal Dan Semesta [✔]

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines