LENTERA

LENTERA

  • WpView
    Reads 160
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 21, 2021
[bukan cerita horor] Kota hanya bagian dari sebuah nama yaitu "NEGARA". Negara itu sendiri memiliki aspek kehidupan bagian yang terkadang stabil atau terombang-ambing. Pemimpin dan rekannya sebagai tumpuan, tak semua masyarakat menyuarakan keinginan keadilan, karena pada dasarnya keadilan masih di pertanyakan dalam kehidupan. Margareth Yosan, hanya seorang remaja sembrono tapi memiliki kemampuan yang di tekuninya dalam beberapa pekan atau tahun yang lumayan lamanya. Tujuan dari kemampuannya adalah untuk menstabilkan salah satu aspek Negara-nya. Akankah Margareth Yosan berhasil mencapai tujuannya? Bagaimana Margareth Yosan bisa menstabilkan salah satu aspek negara-nya? Apakah kemampuannya cukup untuk mencapai tujuannya? Bagaimana jika dia tidak berhasil? Apakah semudah dan semulus pemikiran kita semua? Simak kisah Margareth Yosan di sini~ Jangan plagiat ya, capek mikir soalnya yang punya~
All Rights Reserved
#64
negara
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Yosan Ananda
  • ASRAR [TERBIT]
  • •Pantai Terlarang Rahasia Umum•
  • 𓍢ִ໋🀦⊹ ࣪destiny and the moon⊹ ࣪ ˖࣪ ִֶָ☾. [Countryhuman]
  • Sihir Sang Pangeran-CH【𝐄𝐍𝐃】
  • RESURGERE: The Andalas Of Nusan [CH]
  • the magical forest {CH}
  • LION or NASKARA Sang Pengendali Cerita
  • Duo Berandal yang Terculik✔

❗ Cerita ini masih tahap Revisi. Kalau Berminat membaca silahkan, Perlu Vote dan Follow dari Pembaca 🙏🏻 ❗ Peringatan: Novel ini mengandung adegan dan karakter dengan sifat gelap yang tidak layak untuk ditiru. ❗ Catatan: Novel ini berisi tema-tema gelap, seperti kekerasan, manipulasi, Bahasa Yang kasar dan eksplorasi sisi gelap manusia. Yang mungkin tidak memicu kenyamanan (tidak cocok) untuk pembaca. Deskripsi Cerita : Liana duduk di tepi pantai, jari-jarinya bermain dengan pasir yang lembut. Angin laut berhembus sepoi-sepoi, menerbangkan rambut panjangnya yang indah hingga menutupi wajahnya yang polos. Ia berusaha menyingkirkan rambutnya dengan tangan yang berpasir, sedikit mengernyit karena pasir menempel di wajahnya. Tiba-tiba, Yosan menyodorkan sebuah jepit mutiara ke arahnya. Mata Liana membulat, menatap jepit itu dengan heran. "Ini jepit aku," katanya, suaranya sedikit meninggi karena terkejut. "Aku cari-cari pantesan gak ada, kamu ambil ya?" tanyanya, matanya menyipit curiga. Yosan terkekeh geli, melihat ekspresi bingung Liana. "Enggak," jawabnya, masih tertawa kecil. "Itu ketinggalan di tali tas ransel aku, waktu kamu jepitin di tas aku." Yosan mengambil jepit itu dari tangan Liana dengan lembut. Ia kemudian menyisir poni samping Liana yang panjang dengan jarinya, lalu menjepitnya dengan jepit mutiara itu. Ia menatap wajah Liana yang polos dan cantik dengan tatapan lembut, senyumnya mengembang. "Liana," katanya, suaranya pelan dan menenangkan. "Siapa yang berani buat kamu nangis? Bilang ke aku." Liana menoleh ke arah Yosan, mengangkat dagunya sedikit, menunjukkan ekspresi sombong yang menggemaskan. "Kalau mamah aku, gimana?" tantangnya. Yosan tersenyum lebar, "Wah, kayanya aku gak berani ngelawan Li," balasnya, "Karena aku gak bisa melawan ibu bidadari. Takut gak di restuin," tambahnya, sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Liana tertawa kecil.

More details
WpActionLinkContent Guidelines