DIARY RALIN

DIARY RALIN

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 22, 2021
WpInfo
Non-Fiction
DIARY RALIN adalah kisah sederhana dari keseharian seorang asisten apoteker 23 tahun yang jomlo. Ada dua lelaki di sisinya. Yang satu Aga, seorang patissiere 27 tahun dengan sifat dewasa. Satunya lagi, Hiro. Dia seorang pemuda 20 tahun yang sedikit anarkis meski romantis. Ralin yang tidak pernah jatuh cinta, tiba-tiba merasakan debaran bersamaan pada dua lelaki tersebut. Kira-kira, kegilaan dan kekonyolan apa yang akan terjadi bila Ralin benar-benar jatuh cinta pada dua lelaki berbeda dalam waktu bersamaan?
All Rights Reserved
#22
ralin
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BACK TO FRIEND | JUNGHWAN X HAERIN (TAMAT)
  • What Brings Love?
  • Aku Mati Rasa Perihal Cinta
  • 𝐓𝐀𝐂𝐄𝐍𝐃𝐀 - π‘πšπ‘πšπ¬π’πš
  • Selalu di Hati (Sudah Terbit)
  • Different Page [Complete]
  • Langit di Antara Kita

Bagi banyak orang, Teresa dan Lionel tak lebih dari dua orang asing yang kebetulan duduk di kelas yang sama-tanpa kisah, tanpa kenangan. Tapi di balik diamnya mereka, tersimpan cerita yang pernah begitu hidup di kota kecil jauh dari Jakarta. Dulu, mereka adalah sepasang kekasih yang saling menggenggam erat di Inggris, menjadikan satu sama lain rumah dalam dunia yang asing. Namun, tidak semua kisah indah berakhir bahagia. Sebuah pertengkaran hebat memutuskan benang di antara mereka. Lionel kembali ke Jakarta lebih dulu, meninggalkan Teresa dalam ketidakpastian yang mengikis perlahan. Sejak hari itu, keduanya tak pernah saling mencari, seolah ingin berpura-pura bahwa cinta itu tak pernah ada. Dua tahun berlalu. Takdir mempertemukan mereka kembali-bukan di kedai kopi tempat mereka biasa tertawa, bukan di taman tempat mereka dulu saling menatap, tapi di sekolah yang sama, di kelas yang sama. Kini mereka berdiri di bawah atap yang serupa, namun dengan jarak yang jauh lebih dingin dari sebelumnya. Mereka tidak berbicara. Tidak saling menyapa. Hanya tatapan yang sesekali bertabrakan-penuh amarah yang tertahan, rindu yang tak diakui, dan bayang-bayang masa lalu yang belum benar-benar mati. Mereka mencoba menjadi asing, tapi hati tidak pernah bisa benar-benar lupa. Dan pertanyaannya kini sederhana: apakah kisah ini akan berakhir sebagai dendam yang terus tumbuh, atau diam-diam menjadi awal dari pertemuan yang tak pernah mereka duga?

More details
WpActionLinkContent Guidelines