BATAS
  • WpView
    MGA BUMASA 155
  • WpVote
    Mga Boto 30
  • WpPart
    Mga Parte 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Wed, Sep 22, 2021
Nirwana Sekar Pradipta gadis berusia 17 tahun yang memiliki kelebihan indera keenam. Melihat bagaimana bentuk makhluk tak kasat mata dan tak jarang makhluk tersebut berkomunikasi dengan dirinya untuk meminta tolong bahkan masuk dalam dirinya tanpa izin, sebuah hal yang sangat melelahkan bagi Nirwana. Bukan hanya itu, beberapa kali gambaran masa lalu maupun masa depan melintas membuat gadis itu frustasi sebab gambaran itu bagai puzzle yang berhamburan, menata makna dari gambaran tersebut bukan hal yang Nirwana sukai, bahkan dia sangat membenci hal tersebut sebab menguras energinya dengan drastis. "Jangan terlalu masuk" Ujar perempuan tua dengan cerutu yang berada di tangannya, mulutnya menghembuskan asap ke udara terbuka, matanya menatap ke luar pekarangan dari balik jendela. Dia Eyang Warsi, Nenek Nirwana. "Kita dan mereka punya batas" Eyang Warsi melanjutkan ucapannya masih melihat ke luar jendela tanpa menatap Nirwana "Mereka kadang menipu, kamu harus bisa membedakan mana yang benar-benar bisa kamu tolong" Mata tua Eyang Warsi melihat ke arah Nirwana dengan sorot yang tegas. Gadis itu hanya bisa mengangguk. "ingat jangan melewati batas!" tegas perempuan tua itu untuk ke sekian kalinya
All Rights Reserved
#829
kisahsma
WpChevronRight
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • PERFECT BAD COUPLE (TERBIT)
  • My cool badboy [LENGKAP]
  • Rahasia Kita [END]
  • Jiwa Yang Berbeda ? (End)
  • bisikan
  • Raden
  • Shraddha : Bisikan dari Lorong Tua
  • Fractured Cheerfulness (On Going)
  • TRANSMIGRASI ICE GIRL [END]
  • Another Soul (Transmigrasi) [END]

Beberapa detik tatapan mereka beradu. Athur menajamkan tatapan saat Milla terus menatap matanya. "Jangan berani tatap gue!" "Kenapa? Mata lo sakit?" Bukan mundur. Milla malah semakin maju. "Jangan lihat mata gue!" tegas Athur memalingkan wajah. "Oo jadi lo itu sakit mata? Atau mata lo ada beleknya ya? Dih jorok." "Diam!" Milla tersenyum menantang. Ia pindah posisi di depan Athur sehingga cewek itu semakin leluasa menatap mata Athur. Milla mempertajam penglihatan. Ia penasaran, memang ada apa di mata Athur. "Mata lo baik-baik aja. Gak merah tuh," ucapnya bak seorang dokter spesialis mata. Athur menunduk menatap mata Milla penuh amarah. "Minggir." Satu kata keluar penuh penekanan. Bukan Milla jika segera mundur saat ada hal yang menyenangkan. Milla malah semakin maju dan menatap mata beriris hitam pekat itu. "Jangan-jangan mata lo katarak ya. Atau malah mata lo punya virus menular jadi orang lain gak boleh lihat mata lo," ucap Milla bernada berlebihan. Sampai-sampai ia membelalakan mata, membuka mulut serta meletakkan kedua tangan di pipi. Emosi yang sejak tadi Athur kendalikan kini sudah di ujung tanduk. Baru kali ini ada orang yang berani menatap matanya. Bahkan sedekat ini. Apalagi baru kali ini kata-kata dingin Athur tidak mempan. Saat semua orang menunduk ketika Athur mengedarkan pandangan. Milla berbeda. Saat semua orang takut untuk berbicara dengan Athur. Milla berbeda. Dan saat semua orang diam ketika Athur berbicara. Milla berbeda. Tatapan Athur lurus pada mata Milla. "Gue akan buat lo nyesel berani tatap mata gue!" tegasnya bernada mengancam.

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman