Possessive Husband

Possessive Husband

  • WpView
    Reads 3,445,779
  • WpVote
    Votes 257,052
  • WpPart
    Parts 44
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Dec 31, 2025
Alkina mendekati gerombolan anak yang sedang bersantai di rooftop sekolah. Tentu saja kedatangan Alkina sukses mencuri perhatian. "Kalan?" Kalan membuang rokoknya setelah mendengar sapaan dari gadis yang selama ini sudah ia klaim sebagai kekasihnya. Yah! Dia tidak perlu persetujuan dari wanita yang ia pilih menjadi pendampingnya, toh! Ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan. "Ngapain lo kesini?" Kalan berjalan menghampiri Alkina membuat Alkina menunduk, tak berani menatap manik hitam milik Kalan. "Aku pengen bicara berdua." Kalan mengangguk sebelum menyuruh seluruh anggotanya untuk pergi. Alkina menyerahkan benda persegi panjang tipis ke arah Kalan yang terus saja menatap datar ke arah kekasihnya itu. "Lo-" "Demam?" Pertanyaan Kalan membuat Alkina menunduk menahan air mata yang seolah berdesakan ingin keluar. Alkina menggeleng, "Aku-aku hamil." Note: seperti cerita-cerita posesif, pemerannya posesif, tapi bakal dibumbui part-part komedi, romansa, dan sedikit drama untuk mempermanis cerita. Start: 12-10-2021
All Rights Reserved
#747
mba
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sailing With You [END]
  • Still, I Choose You [ ON GOING ]
  • (In)credible Marriage
  • My Posesif Brother
  • My Crush Boy Next Door (END) -TAHAP REVISI
  • Baby of My Enemy [END ]
  • Farmasi & Perawat
  • Freaky Family [END]
  • Tejebak Lelaki Brengsek!

Perjalanan kisah cinta Gara seorang naval architect muda dengan Arunika mahasiswi magang yang bekerja membantunya. Siapa sangka pertemuan takdir itu mengungkap kisah masa lalu yang dipenuhi kesalahpahaman. Akankah bahtera Gara dan Arunika bisa terus berlayar di antara badai yang menerjang ? ..... Ceklek Sontak Gara menoleh. Dengan panik dia berlari namun naas kakinya tergelincir cairan licin di lantai. Tubuh Gara oleng tak seimbang namun dia berhasil menstabilkannya dengan gerakan reflek yang ia lakukan. Arun berkedip-kedip melihat pemandangan di depannya. Dia memang tak asing melihat cowok bertelanjang dada. Ardi sepupunya selalu begitu saat di rumah ketika gerah. Begitupun teman-temannya saat di kelas sehabis pelajaran olah raga. Tapi yang ia lihat kini Gara. Suaminya. Yang masih untouchable. "Mas Gara ngapain nari sambil handukan gitu ?"ceplos Arun menyembunyikan debaran di balik ekspresi heran. "Hah ?! Aku nggak lagi nari, Arun. Ini hampir jatoh" What the hell !!! nari ? Arun ngira gue nari ?! Masa gue tadi gemulai ? Padahal kehormatannya sebagai suami hampir di ujung tanduk begitu. Untung saja dirinya tidak jatuh tengkurap di hadapan Arun. Syukurlah hari ini masih bisa jaim (jaga image) "Oh.." Arun tak ambil pusing dan berjalan mengambil alat pelnya. ..... "Nama urus belakanganlah. Cari ukurannya dulu. Dihitung dirancang dulu. Baru dikasih nama." "No !!! Nggak bisa gituu. Bagi gue kapal itu udah kaya anak. Jadi ya kasih nama dulu baru dirawat dan dibesarkan sepenuh hati" terang Shofi. "Ya kan sebelum anak lahir lo harus bikin dulu. Ngidam dulu. Lahiran dulu. Baru dikasih nama" "Hmmmm....begitu ya" Shofi manggut-manggut membenarkan perkataan Arun. "Eiiiits....bentar-bentar. Bikin dulu ?! Ngidam dulu ?!" Ulang Shofi. "Tumben lo ikutan gak jelas nanggepin metafora gue" heran Shofi. Arun tersadar. Mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap lurus Shofi di depannya. "Iya juga." jawabnya singkat dan meneruskan kembali bacaannya dengan cuek.

More details
WpActionLinkContent Guidelines