ATHALA MISERY

ATHALA MISERY

  • WpView
    LECTURAS 1,627
  • WpVote
    Votos 157
  • WpPart
    Partes 55
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación vie, feb 10, 2023
WpInfo
Ficción
Romance
"Gue gila!" "Gue bodoh!" "GUE NGGAK BERGUNA!" jeritnya keras. Bibirnya tersenyum hambar, meskipun matanya tak berhenti mengeluarkan air mata. Ia merasakan sesak yang begitu dasyat di dadanya. Dan lagi-lagi darah kembali mengalir dari hidungnya, Ia berusaha menyeka darah itu, namun tiba-tiba... •••••• "Beri gue kematian!" "Karena cuman itu yang bisa bikin gue bebas!" •••••• "Tuhan nggak mau gue bebas, Raf. Buktinya gue masih dibiarin hidup sampai sekarang!" ••••••• Manusia memang pintar dalam membuat luka, sampai mereka lupa jika menghilangkan bekasnya tidak semudah menciptakannya.
Todos los derechos reservados
#371
konflikkeluarga
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • TUBUH GADIS NERD [END]
  • Stronger Than Another
  • Raina Maramitha
  • ALSTARAN [END]
  • ALVASANDRA
  • VALOROUS
  • Let Me Love You Longer
  • ALETA
  • Transmigrated as twins

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido