DIANTARA KATA DAN KUAS [END]

DIANTARA KATA DAN KUAS [END]

  • WpView
    Reads 76
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 36
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 22, 2026
--- Ini adalah kisah tentang dua manusia yang saling mencintai melalui cara yang berbeda-satu menulis untuk bertahan hidup, satu melukis untuk menunda rasa sakit. Mereka bertemu di antara sunyi dan kegagalan, saat kata-kata tak lagi cukup dan warna-warna mulai kehilangan makna. Seorang penulis yang percaya bahwa luka bisa disembuhkan dengan kalimat, dan seorang pelukis yang meyakini bahwa perasaan paling jujur hanya bisa diungkapkan lewat sapuan kuas. Mereka saling menjadi rumah, sekaligus cermin bagi luka masing-masing. Namun cinta tidak selalu diberi waktu untuk tumbuh sempurna. Saat kehilangan datang terlalu cepat, yang tersisa hanyalah kenangan-naskah yang tak rampung, kanvas yang ditinggalkan, dan cinta yang tak sempat diucapkan sampai tuntas. Cerita ini tidak sekadar tentang jatuh cinta, tetapi tentang bagaimana seseorang bertahan setelah separuh jiwanya berhenti bernapas. Sebuah kisah tentang cinta yang hidup di antara kata dan warna, dan tentang perpisahan yang mengajarkan bahwa tidak semua kisah indah harus berakhir bahagia untuk menjadi abadi. ---
All Rights Reserved
#578
seni
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pikul Pilu Pada Pulangmu
  • Kyara And Someone She Meet Online
  • Cerita Seks Dewasa Desahan Dahsyat Anak Rantau -
  • You Were Never Made for Me
  • Cerita Seks Bapak Kos Mesum Menggerayangi Tubuh Montok Mona
  • 𝑳𝒊𝒓𝒊𝒌 𝑳𝒂𝒈𝒖 : 𝐸𝑁𝐻𝑌𝑃𝐸𝑁 巛ˢⁱⁿᶜᵉ₂₀₂₀
  • merry a rich men || QIUXING
  • Dua Pilihan(Deva Kiara)
  • 𝑳𝒊𝒓𝒊𝒌 𝑳𝒂𝒈𝒖 : 𝐶𝑂𝑅𝑇𝐼𝑆 巛ˢⁱⁿᶜᵉ₂₀₂₅
  • Rajkumari Sharvani {Ending}

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR ©2026

More details
WpActionLinkContent Guidelines