KINAAN GUNADYA

KINAAN GUNADYA

  • WpView
    Membaca 632
  • WpVote
    Vote 52
  • WpPart
    Bab 10
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Nov 7, 2023
Katanya keluarga adalah tempat berlindung yang paling aman dan nyaman,katanya keluarga adalah tempat berkeluh kesah dan rumah yang katanya tempat surganya dunia namun tidak bagi seorang Kinaan Gunadya Dewantara. Orang tua yang seharusnya menyanyangi anaknya dengan tulus namun kinaan tidak mendapatnya.kinaan yang seharusnya disupport dan diberi kasih sayang tapi realita nya kinaan tidak pernah mendapatkanya. Kinaan Gunadhya Dewantara sosok yang begitu tampan dan berkharisma,bermata tajam dengan sorotan yang menggambarkan banyak luka yang pria itu dapat.sosok yang terlihat dingin dan tidak tersentuh dibalik itu banyak duka dalam yang berhasil ia tutupi. Bagaimana kehidupan kinaan kedepannya? Yuk baca
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • La Vengeance d'ELLEZA
  • "Kenan Rakha Maheswara: Mereka tidak saling mencari, tapi semesta mempertemukan.
  • Terluka Untuk Bahagia [ REVISI ]
  • Setelah Menikah
  • AZRAELLA
  • The Cold Husband✅
  • 244 Days to Hurt You
  • First Love [ON GOING]
  • BUNGKAM
  • Behind Our Eyes

Seorang gadis kecil tampak berjalan sendirian di bawah hujan yang turun dengan begitu lebat. Malam itu gelap, dingin, dan sunyi. Angin menusuk tajam seperti ribuan jarum, dan suara hujan yang menghantam aspal menciptakan irama kelam yang menyayat hati. Di tengah suasana yang begitu mencekam, gadis kecil itu melangkah tertatih, tubuhnya gemetar hebat. Pakaian yang melekat di tubuh mungilnya sudah basah kuyup, menempel erat di kulit yang pucat dan menggigil. Rambut panjangnya yang terurai acak-acakan menempel di wajahnya, menutupi sebagian matanya yang sembab dan kosong. Langkahnya lemah, kakinya menyeret, seolah setiap gerakan menguras sisa-sisa tenaga terakhir yang ia miliki. Tubuh kecil itu penuh luka. Di lengan, punggung, bahkan di pipinya, tampak jelas lebam-lebam ungu kebiruan dan sayatan yang belum sepenuhnya sembuh. Darah yang semula mengalir kini perlahan tersapu oleh air hujan, membaur menjadi jejak samar merah di trotoar basah yang ia lewati. Namun, bukan hanya tubuhnya yang terluka-jiwanya pun telah robek, jauh lebih dalam dari luka di kulitnya. Gadis itu terus berjalan, entah ke mana. Tak ada arah. Tak ada tujuan. Hanya insting untuk bertahan, untuk tidak jatuh... meskipun langkahnya semakin goyah. Matanya yang berkaca-kaca berusaha tetap terbuka, namun pandangannya mulai kabur. Setiap detik terasa lebih berat. Udara yang dihirupnya terasa tipis. Dunia di sekitarnya memudar. "𝑫𝑰𝑬" . 𝑬. 𝑨. 𝑨.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan