KEISYA DAN LUKANYA (On Going)

KEISYA DAN LUKANYA (On Going)

  • WpView
    Reads 963
  • WpVote
    Votes 243
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Sep 18, 2022
HARAP FOLLOW DULU SEBELUM DIBACA YA VRENN, TYPO BERTEBARAN, YANG GASUKA MENDING LANGSUNG OUT DEH DIH NGUSIR? IYA SAYA NGUSIR MAU APA LO? ini menceritakan tentang Keisya amora Adiwijaya dan beribu rasa sakit yang 17 tahun ini ia rasakan, mempunyai papa yang temperamental, ibunya yang selalu membandingkan dirinya dengan saudara tirinya, bahkan pacarnya yang ia anggap rumah pun jarang ada untuknya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rumah Kedua
  • ZeBara
  • Could you be a home for me? [TAMAT]
  • 𝐇𝐢𝐬 𝐁𝐫𝐨𝐤𝐞𝐧 𝐌𝐚𝐭𝐞.✔
  • Cinta Dan Kasih Sayang (Writing Temporarily Suspended)
  • ANAK YANG DI LANGGAR
  • Naura & Lukanya
  • Ada(Ra)Dewa [END]

Sebuah keluarga yang terpukul kehilangan ganda akibat penyakit langka, menemukan kembali kekuatan dan kebahagiaan melalui warisan sebuah toko buku, Senja Kata, dan pesan cinta abadi. - - - - Latar Belakang Luna: Luna (21 tahun), anak dari orang tua bercerai, hidup mandiri di rumah nenek sejak usia 12, lalu sendirian setelah nenek meninggal di usia 19. Dirawat Bunda Citra (ibu tiri) sejak usia 14. Terlahir dengan penyakit UVM (Pendarahan Otak) yang ia sembunyikan bertahun-tahun. Meninggal dunia di usia 21 karena penyakitnya. Kehilangan Bunda Citra: Satu tahun setelah kepergian Luna, Bunda Citra, pengelola toko buku Senja Kata (impian Luna), mulai menunjukkan gejala penyakit yang sama. Ia merahasiakan kondisi parahnya (sisa umur satu minggu) dari anak-anak, hanya Ayah Ari yang tahu. Bunda Citra menyiapkan surat dan hadiah terakhir untuk anak-anak. Menghabiskan minggu terakhir dengan menciptakan kenangan indah bersama keluarga. Pesan dan Warisan: Bunda Citra meninggal dunia dan dimakamkan di samping Luna. Ayah Ari mendapat petunjuk dari mimpi untuk mengizinkan anak-anak membuka amplop dan menemukan hadiah. Anak-anak (Bintang, Nara, Raka) membaca pesan terakhir penuh cinta dan menemukan hadiah-hadiah dari Bunda. Keluarga bersatu kembali, menemukan kekuatan dalam pesan dan warisan Bunda Citra dan Luna, bertekad melanjutkan Senja Kata sebagai monumen cinta dan harapan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines