"Arkan ganteng banget, paraaahh!"
"Udah pinter, sholeh, ganteng lagi. Argh idaman banget sih!"
~
"Heh, cacat!"
"Dika..., Dika..., lo itu cuma beban doang buat Arkan. Mending lo pergi aja, jangan nyusahin Abang lo!"
~
"Bang, gue beban ya?"
"Gue pergi aja kali, ya? Biar lo gak malu punya sodara kaya gue."
"Fokus aja sama masa depan, lo! Gak usah mikirin gue, Bang!"
"Dika, sekali lagi lo bilang gitu, gue jejelin juga mulut lo pake cabe!"
~
"Bang, Pak Joko udah nagih uang kontrakan!"
"Bang, beras abis."
"Bang, maaf gue gak masak. Makanannya abis,"
"Bang, maaf cucian masih numpuk. Kaki gue sakit lagi."
"Bang tolongin, sakiit...."
~
"Lo istirahat aja, cucian biar gue yang urus. Gue pulang kerja lebih awal."
"Dika, maaf. Gue gak bisa bawa lo periksa...."
"Lo tahan sakitnya bentar ya, gue cari bantuan dulu."
~
Sejauh apa pun kamu pergi, aku tetap Kakakmu. Bagaimana pun orang memandangmu, aku tak peduli. Di mata orang, kamu terlihat rendah. Tapi di mataku, kamu anugerah. Jangan pernah pergi, jika bukan aku sendiri yang menyuruhmu pergi. - Arkananta.
Aku memang terlihat tak sempurna. Tidak seperti orang - orang melihat Kakakku, mereka selalu membanggakannya. Bagi mereka, aku ini hina. Aku hidup hanya untuk menjadi beban seorang Kakak. Salah jika aku menginginkan hal yang sama? Tidak banyak, hanya ingin dihargai sebagai manusia saja, aku sudah bahagia. - Mahardika
"Betah banget tu tangan di pegang ketos songong itu"
"Maksudnya lo"
"Lo milik gue Dis, gak ada orang yang boleh nyentuh lo"
"Lepasin gue"
"Gak sebelum lo , bilang lo mau jadi pacar gue"
"Anelka lo gila ya" Orang yang menarik tangan Disa paksa itu adalah Anelka.
"Gue gila karena elo"
"Pergi gue , gue gak akan jadi pacar lo"
"Mau kita buktikan" Belum sempat menjawab Anelka telah lebih dahulu melumat bibir Disa. Bukan nya menolak Disa malah seakan mengikuti permaian Anelka.
"Gue kenapa, kok gue nerima perlakuan dia" Batin Disa berkecamuk"
Sesaat kemudian Anelka melepaskan pangutan mereka berdua.
"Katanya gak suka, kenapa gak nolak" Ucap Anelka dengan smrikannya.
"Sekarang lo milik gue, pulang gue anter masalah motor lo biar gue yang urus" Baru saja Disa hendak membantah.
"Gue gak Terima penolakan."
Anelka meninggalkan Disa di sudut ruangan itu.
"Shit, ada apa sama gue, apa iya gue suka sama Anelka? Ahh gak mungkin! " Batin Disa.