Gadis dengan Sejuta Luka

Gadis dengan Sejuta Luka

  • WpView
    Reads 19
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 6, 2022
Anaya itulah nama panggilanku, aku memiliki saudara kembar yang bernama Shanaya. Dia sangat pintar dan sering mendapatkan prestasi di sekolahnya sedangkan aku kebalikannya. Aku selalu dibanding-bandingkan dengan dia. Segalanya tentang Shanaya dimata orangtuaku, bahkan disaat Shanaya melakukan kesalahan mereka selalu membelanya sedangkan kalau aku yang melakukan kesalahan mereka selalu memarahiku bahkan mereka sering main tangan kepadaku dan mencambuk ku dengan rotan atau ikat pinggang, itu sangatlah sakit. Setiap aku meminta mereka untuk berhenti menyakitiku mereka tidak mendengarkannya. "Cukup Pa sakit hiks... hiks...hiks..." raung aku kesakitan dan menangis. "DASAR ANAK TIDAK TAHU DIRI SELALU SAJA MEMBUAT ORANG TUA MALU, SAYA MENYESAL TELAH MEMPUNYAI ANAK SEPERTIMU" Bentak Papa sambil memukulku dengan rotan. Suatu ketika, sebuah takdir yang tidak aku inginkan terjadi. Dimana aku yang divonis terkena kanker leukemia, disitulah aku merasa sangat sedih karena hidupku mungkin tidak akan lama lagi.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DIA ADALAH NAJA
  • Limerence
  • Sejenak Luka
  • Silent Love (END)
  • Seminggu sebelum aku mati (End)
  • ALL MY WOUNDS
  • Aku dan Luka [Sudah Terbit]
  • ARKALYA (END)
  • Stres In Life

*** Aku Nasya Anindya Arkana. Lebih mudahnya, sebut saja Naya. Hari ini adalah hari kelulusanku, setelah kurang lebih empat tahun lamanya aku menempuh pendidikan strata satu di kampus yang ada di ibukota provinsi. Aku satu-satunya anak orang tuaku, maka dari itu sifatku sedikit manja, tapi aku juga mandiri kok. Papaku adalah Papa Arkana, beliau pemilik salah satu perusahaan yang bergerak di bidang properti. Kalau Mama, namanya Gayatri. Agar lebih mudah mengingatnya, sebut saja Mama Iyat. Beliau adalah istri Papa, Mamaku. Mama gak kerja, karena yang kerja anak buahnya. Mama punya beberapa butik di beberapa kota, salah satunya di kota tempat tinggal kami sekarang. Ah iya, aku hampir lupa. Aku juga punya seorang kekasih, dia dua tahun lebih tua dariku. Dia anak dari sahabat Papa. Kami bertemu sejak aku berusia delapan belas tahun, ya benar, saat aku menjadi mahasiswa baru di kampusku. Kekasihku itu dulunya seorang presiden mahasiswa, aku beruntung karena bisa mendapat banyak pelajaran darinya. Kebetulan kami juga mengambil jurusan yang sama, jadi jika aku tidak paham dengan mata kuliahku, dialah yang membantuku dan menjelaskan ulang hingga aku paham. Hubungan kami sudah berjalan sekitar tiga tahun. Lalu satu tahunnya bagaimana, bukankah aku kuliah selama empat tahun? Ya, satu tahunnya adalah masa pengenalan, pendekatan dan perkelahian. Hampir setiap hari dia mengusiliku, katanya agar aku selalu mengingatnya walaupun yang kuingat hanya tingkahnya yang mengesalkan. "Naya, kamu sudah bangun nak, cepat siap-siap" ucap Mama Iyat dari luar kamar. "Iya Ma, ini mau siap-siap" sahut Naya. Naya menutup laptopnya setelah mengupload beberapa kata yang barusan dia ketik disana.

More details
WpActionLinkContent Guidelines