Dewa dan Dewi (Hiatus-On Going)

Dewa dan Dewi (Hiatus-On Going)

  • WpView
    Reads 14,541
  • WpVote
    Votes 853
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 17, 2022
[Warning area 18/21+] Awas, Baper!!! Hati-hati!!! "Dewa..." Dewa menatap Dewi yang duduk dipangkuannya dengan dingin dan datar. Dia hanya menyahut dengan berdeham. Tangan kanannya sibuk mengelus pinggang gadis itu dan tangan kirinya mengelus pipi tembam Dewi. Dewi menggigit bibir bawahnya, ragu - ragu ingin mengucapkan satu kalimat yang tertahan di tenggorokannya. Tetapi, dia tetap harus memberitahu ini kepada Dewa, kekasihnya. "Dewa, D-dewi hamil..." ucap Dewi dengan menatap takut - takut pada Dewa. Gerakan kedua tangan Dewa terhenti. Dia mengernyitkan dahinya lalu menatap tajam Dewi. Lalu tak lama, dia kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Dengan pelan, dia tarik tubuh ramping kekasihnya untuk dia peluk. "Tidur." ujar Dewa sambil menepuk pelan punggung kekasihnya. Dan Dewi menurut saja. Karena baginya, itu sudah sebagai jawaban dari seorang Laksda Dewangga Herman. Melihat gdisnya tertidur, tangan Dewa beralih pada perut rata gadisnya yang telah berisi calon darah dagingnya. Mengelusnya pelan dengan gerakan memutar. Mata tajam nan runcing itu menyorot tajam ke depan. Tidak ada yang tahu, apa yang sedang dipikirkannya. Hanya Dewa dan Tuhan yang tahu. **** Dewa itu dingin, cuek, keras, tampan, dan segala kata Badboy melekat padanya. Dewi itu cantik, baik, lemah lembut, polos, imut, dan segala kata Goodgirl melekat padanya. Laksda Dewangga Herman dipertemukan dengan gadis bernama Dewi Anjani. Seorang Badboy bertemu seorang Goodgirl. Karena rasa penasaran Dewi akan Dewa, membuatnya harus terikat dengan cowok itu. Ditambah, kebersamaan mereka membuat keduanya saling bergantung, hingga beberapa rahasia, misteri, dan teka - teki yang semula tertutup rapat menjadi terkuak. Ikuti kisah keduanya. Siapkan hati dan pikiran untuk mencari jawaban. ----------------------- Cover by Pinterest Real story from my imagination ----------------------- Plagiat lebih baik menjauh ya? Terima kasih :)
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Althalan Vs Amore
  • Abu Abu [ completed ]
  • LEADER MAFIA GIRL [END]
  • Pemuda Misterius [SELESAI]
  • I (Don't) Need Your Love
  • The Secret Of The Masked Man
  • Effort 2 [ Completed ]
  • Cantikku Dibalik Kacamataku [On Going]
  • Memories Of Us [TAMAT]
  • I'm Not A Villainess

Jangan lupa follow Ig: ZinniaPeruviana Di hadapan Althalan, seorang wanita berlutut, menggenggam tangannya yang dingin. Amore. Wajahnya pucat, air matanya bercampur dengan rintik hujan yang membasahi pipinya. Perutnya yang membesar menandakan kehidupan yang sedang ia lindungi-anak kembar yang masih belum lahir, darah daging Althalan. "Kamu nggak boleh mati, Alva...!" "Kamu janji bakal ngebesarin mereka bareng aku, kan?! Kamu nggak boleh pergi sekarang!" Althalan terkekeh lemah. Darah mengalir dari sudut bibirnya, tapi sorot matanya masih samapenuh dominasi, penuh kepastian. Tubuhnya gemetar, tapi bukan karena ketakutan. "Dengerin aku, Lova..." "Anak kita... mereka akan lahir membawa darah aku... Mereka bakal lebih kuat, lebih kejam... dunia ini nggak bakal bisa ngelawan mereka." Amore menggeleng, air matanya jatuh lebih deras. "Jangan ngomong gitu, dasar brengsek! Mereka butuh kamu! Aku butuh kamu!" "Amore" Suaranya kini terdengar lebih dalam, hampir seperti bisikan maut. "Jangan takut. Aku udah senang karena mereka sebentar lagi akan lahir, mereka warisan yang jauh lebih besar dari apapun, mereka nggak akan tumbuh sebagai manusia biasa." "Kita akan terus bersama, aku akan selalu berada di sampingmu sayang, jangan menangis seperti itu, lihat mereka tidak senang melihat mommynya menangis! Mereka adalah dua pilar kehidupan, Walaupun aku sudah tidak ada didunia ini aku berjanji, akan terus melihatmu bahagia bersama kedua anak kita sayang!" Hujan terus turun, membasahi wajahnya yang semakin pucat. Aura iblisnya berputar semakin liar, sebelum akhirnya menghilang bersama helaan napas terakhirnya. Althalan, akhirnya berhenti bernapas. Namun, di balik keheningan yang menyakitkan, dia bisa merasakan sesuatu yang lain dua kehidupan kecil yang sedang berkembang di dalam dirinya. Anak-anak mereka. Dengan mata yang masih dipenuhi air mata, Amore menunduk, bibirnya bergetar. "Mereka akan lebih kuat dariku..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines